
Telah kugenggam bayangmu saat pertama kali bertemu senyummu mengalahkan lelahku dan kerudung putih itu menari di bawah mentari namun liuknya kuakrabi sebagai luka
hari demi hari kau putuskan untuk menaklukkan kata-kata dalam puluhan cerita yang tersebar di nusantara kaulah yang memantikkan api di dada dan pena kami
menulis! katamu, menulis! jalin lara serambi dengan doa dan cinta nyalakan kalian, nyalakan! katamu jalin lara serambi dengan doa dan cinta
Namun sekonyong-konyong maha gelombang itu datang menerpa menyapu segala membawamu pergi dari kami
dari Jakarta aku merasa cuaca berdarah mengiris-iris perih, udara dipenuhi kalimat-kalimat yang berhamburan dari sepuluh bukumu jejak yang tak terhapuskan
Sesungguhnya telah kugenggam bayangmu saat pertama dan terakhir kali bertemu kau yang lebih indah dari bunga dan airmata abadi dalam panggung kenanganku.
Selamat jalan, Diana Roswita
Cipayung, 2 Februari 2005 Helvy Tiana Rosa ----------------------------
Tentang Diana Roswita
Diana Roswita lahir 6 Agustus 1979 di Banda Aceh. Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Drs. Diah Husin dan Dra. Rosniah ini senang menulis cerpen dan menggambar komik sejak di bangku Sekolah Dasar.
Sewaktu duduk di bangku Madrasah Aliyah, ia bergabung dengan majalah sekolah Gema Madrasah sebagai ilustrator. Karya-karyanya juga mulai dimuat di berbagai media. Buku fiksinya yang telah terbit antara lain: Lukisan Sakura (Mizan 2001), Suci (Mizan 2003, Bidadari di El Rijal (Syaamil, 2003), Impian Jaquelyn (Mizan, 2004), Menanti Sang Pangeran (Lingkar Pena Publishing House, 2004). Karyanya juga terdapat dalam beberapa antologi, di antaranya Doa untuk Sebuah Negeri (Syaamil 2001), Antologi Sastra Putroe Phang (DKA, 2003), Bintang di Langit Baiturrahman (GIP 2004), Hati yang Terpisah (Syaamil, 2003), Di Sini Ada Cinta (seri MTPS, LPPH 2004), dan lain-lain.
Karyanya Selalu Ada Jalan menjadi Juara I Lomba Penulisan Buku Cerita Keagamaan tingkat SLTP yang diadakan oleh Depag RI (tahun 2002). Ia juga pernah menjadi Finalis Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan Forum Lingkar Pena Pusat (2002), serta juara hiburan pada Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) VI majalah Annida (2003) dengan cerpennya yang berjudul “Permintaan Rijal”
Diana adalah Sarjana Agama dari Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pada tahun 2001 ia menikah dengan Zulfadhli, ST. Tahun 2004 ibu dua putra kembar balita, Muhammad Jihad al Fathi dan Muhammad Imad Farahat ini menjadi Ketua Divisi Fiksi FLP Nanggroe Aceh Darussalam. Sebelumnya Diana adalah Wakil Ketua FLP Nanggroe Aceh Darussalam, sekaligus perintis pembentukan FLP di wilayah tersebut.
Diana dan kedua anak kembarnya meninggal dalam tragedi tsunami, 26 Desember 2004. Salah satu buku terakhirnya Cahaya Mata (GIP, 2004) ditulis berdua dengan suaminya yang selamat dalam musibah tersebut.
  | sedih banget.... apalagi ngeliat poto yg lucu itu... moga2 keluarga tercinta diberi ketabahan selalu.. |
 | Bagi saya dan teman-teman FLP, semangat Diana tetap tinggal di sini. Tak akan pernah pergi.... |
 | saya dulu pernah menjadi anggota flp aceh ketika flp aceh pertama berdiri. kak ita (beliau tidak suka dipanggil diana)yang saya kenal memang Subhanallah. speechless, walaupun telah lewat berbulan-bulan, sedih dan haru itu terus tumbuh.innalillahi wa inna ilaihi raji'uun... |
 | hiks.. sedihnya..... tangis di hati andi bergumul hendak memecah dada gerimis, mbak....
|
 | asw. mbak helvi, ini dia senior ane di LDK IAIN Ar-Raniry, sebenarnya waktu sebelum meninggal, kita sempat mendapat panngialn rektor saat itu, untuk membiayai buku ukhti diana yang prtama kerjasama dengan Arraniry presss...Allah knows the best, suaminya sahabat karib kita |
 | sastra emang bisa membuat jiwa menjadi indah ya mbak. apalagi puisi... Aq suka banget sama puisi. tapi nggak bisa bikinnya. suka membacanya saja. pernah nyoba2. tapi jadinya malah aneh =P. sukses terus ya mba.. |
 | Saya penggemar cerpen2nya Diana. Saya ingin mengikuti jejaknya, karena walaupun sudah meninggal dunia, namun karyanya tetap abadi. Dan itu jadi amal jariyah |
 | orang tidak akan pernah mati selama ada orang yang mengenangnya... dan menulis adalah salah satu jalan untuk dikenang. Semoga semangat Mbak Diana bukan hanya untuk dikenang tapi menjadi semangat kita juga.
salam kenal ya mbak Helvy, kenalkan, aq pertapa sunyi yang sedang belajar jadi penulis karena hanya dengan menulis aq bisa mengakrabi pagi :) |
| |