Waktu itu saya sudah duduk di kelas
I SMPN 78, salah satu SMP favorit di
Jakarta Pusat. Setiap hari saya berangkat sekolah naik mikrolet. Kadang
saya berangkat lebih awal dengan berjalan kaki, agar bisa menabung uang ongkos
untuk tambahan membeli perangko, mengirim naskah puisi dan cerpen ke beberapa
majalah dan koran.
Suatu hari, saat berjalan kaki
sendiri pulang sekolah, saya bertemu seorang anak lelaki sebaya. Dia hampir
saja jatuh saat turun dari metro mini! Ada
gendang kecil yang ia sangga dengan tali, meliliti pinggangnya.
Entah mengapa, saya berhenti sesaat
dan menyapanya, “Kamu nggak apa?”
Dia menatap saya tak peduli.
Saya keluarkan sesuatu dari dalam
tas sekolah saya. “Mau roti?”
Dia memandang saya aneh. Tangan saya
menjulurkan sepotong roti padanya yang segera ia ambil dan makan dengan rakus.
“makasih,” katanya dengan mulut penuh.
Kami menepi setelah seorang
pengemudi motor membunyikan klakson dengan kencang.
“Kamu pengamen ya?”
Dia tertawa dan mengangguk. “Ya,
untuk sekolah.”
“Ini pertama kali saya ketemu
pengamen kecil. Biasanya kan
dewasa semua….”
“Makasih untuk rotinya,” katanya
seraya bergegas berlalu.
“Eh, tunggu. Kalau ngamen, banyak
yang kasih uang?”
“Kadang-kadang. Lumayan masih bisa
sekolah!” jawabnya pendek tapi ramah. “Nama saya Rijal!. Kamu siapa?”
Saya sebutkan nama saya. Dan tak
lama kemudian kami berpisah. Rijal melambaikan tangan saat masuk ke sebuah bis
arah Cempaka Putih.
Ada sedih memandang Rijal, namun
sebersit ide melintas di benak saya.
Seminggu kemudian, saya siap
melakukan sesuatu! Saya ingin mengamen seperti Rijal! Tapi tidak mengamen lagu,
saya akan mengamen puisi saja! Mungkin ini salah satu kesempatan saya untuk
bisa membeli mesin tik. Selanjutnya saya akan tenang menulis, tanpa harus
meminjam mesin tik tetangga. Kalau sudah punya mesin tik saya akan menulis,
bukan mengamen.
O ya soal mengamen puisi, saya
pernah melihat ada beberapa seniman gondrong yang pernah melakukannya di Taman
Ismail Marzuki dan di atas bis. Dulu waktu SD saya juga pernah dua kali
melakukannya di TIM. Iya, sekadar menarik pandangan para sastrawan yang sedang
berkumpul di bawah pohon, bukan untuk mencari uang….
Saya siapkan puisi-puisi penyair
terkenal yang saya catat dari buku-buku pinjaman di perpustakaan. Karya Taufiq
Ismail, Gunawan Muhammad, Sutardji Calzoum Bachri dan Rendra. Saya selipkan
juga beberapa puisi saya. Yaaa siapa tahu ada yang sudi mendengarkan? Apalagi
saya sering menjadi juara lomba baca puisi tingkat propinsi. Ini saatnya mencari
uang!
Hari Minggu. Saya pamit pada mama
dan bilang saya akan ke rumah Nurillah, teman SD saya yang tinggal di gang meranti. Padahal saya
berjalan kaki dari Kebon Kosong menuju Haji Ung. Saya siapkan juga sebuah tas
kain untuk mengumpulkan uang hasil mengamen.
Hap! Saya melompat naik ke atas
sebuah metro mini. Wajah-wajah yang tak ramah memandang saya aneh. Saya tak
peduli. Saya berdiri dan langsung membaca puisi! Tapi apa yang terjadi? Tak
seorang pun yang memberi saya uang! Mereka hanya memandang aneh.
“Tidak apa,” kata saya tersenyum.
“Terimakasih sudah mau mendengar!” saya melompat turun dan saat bis lain
melintas, naik ke dalamnya.
“Kalau mau ngamen, pakaiannya jangan
keren gitu dong, Neng! Jadi nggak ada yang ngasih uang!” kata kondekturnya
sambil nyengir.
Hah? Saya pandang pakaian saya.
Kemeja kota-kotak biru, celana jeans, tas kecil hitam, sepatu kets, rambut diekor kuda…, apanya
yang keren?
Hari itu saya keliling-keliling Jakarta membaca puisi di
atas bis. Banyak yang senang, ada yang terganggu. Turun dari bis, sesekali saya
diikuti beberapa anak lelaki nakal yang langsung saya ketusi saat mereka
mendekat.
Setiap minggu selama sebulan saya
mengamen. Saya cukup banyak dapat uang recehan, tapi sampai kapan bisa cukup
untuk membeli mesin tik?
“Nanti kalau punya suami pasti
dibelikan, Kak,” kata adik saya Rani yang protes karena hari minggu selalu saya
tinggal tanpa tahu saya kemana.
“Suami?” saya mendelik. “Harus setua
itu?”
Saya kumpulkan lagi naskah-naskah
yang saya tulis tangan. Nasibnya mungkin akan sama dengan naskah-naskah
terdahulu bila dikirim tanpa diketik. Ia akan lenyap tak berbekas tanpa pernah
dimuat.….
“Dengar ya dek, tolong ingatkan
kakak. Bila nanti kakak jadi redaktur koran atau majalah, kakak akan membaca
tulisan tangan yang datang dan kalau bagus, akan memuatnya! Ingetin ya!”
Rani yang masih kelas 5 SD dan
sedang membaca buku cerita, bengong.
Pada akhirnya memang mesin tik
pertama saya, tak saya dapatkan dari mengamen puisi. Saya membelinya saat saya
duduk di kelas I SMA, kala menjadi Juara II Lomba Baca Puisi yang diadakan
dalam rangka HUT Taman Ismail Marzuki. Waktu itu saya menyisihkan Tabah
Penemuan dan Ratu Tria yang menjadi Juara III dan Harapan. Bangga sekali saya,
karena Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agusta, Danarto dan Jose Rizal Manua yang
menjadi juri. Wah, tak sia-sia sering berlatih di atas bis, bukan?
Sewindu setelah pertama kali
mengamen puisi di bis itu, alhamdulillah saya menjadi redaktur sebuah majalah.
Dan tak sekali pun saya pernah mengingkari janji saya untuk membaca
naskah-naskah dari berbagai pelosok yang hanya ditulis tangan…, dan percayakah
Anda, saya menemukan begitu banyak bakat luar biasa dari mereka yang mungkin belum punya rezeki untuk bisa membeli mesin tik sendiri, apalagi komputer!
Ket. Foto: Sketsa dari Tabloid Al Fikri