Blog EntrySaat SMP Ngamen Puisi untuk Beli Mesin Tik Mar 17, '06 9:17 AM
for everyone


Waktu itu saya sudah duduk di kelas I SMPN 78, salah satu SMP favorit di Jakarta Pusat. Setiap hari saya berangkat sekolah naik mikrolet. Kadang saya berangkat lebih awal dengan berjalan kaki, agar bisa menabung uang ongkos untuk tambahan membeli perangko, mengirim naskah puisi dan cerpen ke beberapa majalah dan koran.

Suatu hari, saat berjalan kaki sendiri pulang sekolah, saya bertemu seorang anak lelaki sebaya. Dia hampir saja jatuh saat turun dari metro mini! Ada gendang kecil yang ia sangga dengan tali, meliliti pinggangnya.

Entah mengapa, saya berhenti sesaat dan menyapanya, “Kamu nggak apa?”

Dia menatap saya tak peduli.

Saya keluarkan sesuatu dari dalam tas sekolah saya. “Mau roti?”

Dia memandang saya aneh. Tangan saya menjulurkan sepotong roti padanya yang segera ia ambil dan makan dengan rakus. “makasih,” katanya dengan mulut penuh.

Kami menepi setelah seorang pengemudi motor membunyikan klakson dengan kencang.

“Kamu pengamen ya?”

Dia tertawa dan mengangguk. “Ya, untuk sekolah.”

“Ini pertama kali saya ketemu pengamen kecil. Biasanya kan dewasa semua….”

“Makasih untuk rotinya,” katanya seraya bergegas berlalu.

“Eh, tunggu. Kalau ngamen, banyak yang kasih uang?”

“Kadang-kadang. Lumayan masih bisa sekolah!” jawabnya pendek tapi ramah. “Nama saya Rijal!. Kamu siapa?”

Saya sebutkan nama saya. Dan tak lama kemudian kami berpisah. Rijal melambaikan tangan saat masuk ke sebuah bis arah Cempaka Putih.

Ada sedih memandang Rijal, namun sebersit ide melintas di benak saya.

Seminggu kemudian, saya siap melakukan sesuatu! Saya ingin mengamen seperti Rijal! Tapi tidak mengamen lagu, saya akan mengamen puisi saja! Mungkin ini salah satu kesempatan saya untuk bisa membeli mesin tik. Selanjutnya saya akan tenang menulis, tanpa harus meminjam mesin tik tetangga. Kalau sudah punya mesin tik saya akan menulis, bukan mengamen.

O ya soal mengamen puisi, saya pernah melihat ada beberapa seniman gondrong yang pernah melakukannya di Taman Ismail Marzuki dan di atas bis. Dulu waktu SD saya juga pernah dua kali melakukannya di TIM. Iya, sekadar menarik pandangan para sastrawan yang sedang berkumpul di bawah pohon, bukan untuk mencari uang….

Saya siapkan puisi-puisi penyair terkenal yang saya catat dari buku-buku pinjaman di perpustakaan. Karya Taufiq Ismail, Gunawan Muhammad, Sutardji Calzoum Bachri dan Rendra. Saya selipkan juga beberapa puisi saya. Yaaa siapa tahu ada yang sudi mendengarkan? Apalagi saya sering menjadi juara lomba baca puisi tingkat propinsi. Ini saatnya mencari uang!

Hari Minggu. Saya pamit pada mama dan bilang saya akan ke rumah Nurillah, teman SD saya yang tinggal di gang meranti. Padahal saya berjalan kaki dari Kebon Kosong menuju Haji Ung. Saya siapkan juga sebuah tas kain untuk mengumpulkan uang hasil mengamen.

Hap! Saya melompat naik ke atas sebuah metro mini. Wajah-wajah yang tak ramah memandang saya aneh. Saya tak peduli. Saya berdiri dan langsung membaca puisi! Tapi apa yang terjadi? Tak seorang pun yang memberi saya uang! Mereka hanya memandang aneh.

“Tidak apa,” kata saya tersenyum. “Terimakasih sudah mau mendengar!” saya melompat turun dan saat bis lain melintas, naik ke dalamnya.

“Kalau mau ngamen, pakaiannya jangan keren gitu dong, Neng! Jadi nggak ada yang ngasih uang!” kata kondekturnya sambil nyengir.

Hah? Saya pandang pakaian saya. Kemeja kota-kotak biru, celana jeans, tas kecil hitam, sepatu kets, rambut diekor kuda…, apanya yang keren?

Hari itu saya keliling-keliling Jakarta membaca puisi di atas bis. Banyak yang senang, ada yang terganggu. Turun dari bis, sesekali saya diikuti beberapa anak lelaki nakal yang langsung saya ketusi saat mereka mendekat.

Setiap minggu selama sebulan saya mengamen. Saya cukup banyak dapat uang recehan, tapi sampai kapan bisa cukup untuk membeli mesin tik?

“Nanti kalau punya suami pasti dibelikan, Kak,” kata adik saya Rani yang protes karena hari minggu selalu saya tinggal tanpa tahu saya kemana.

“Suami?” saya mendelik. “Harus setua itu?”

Saya kumpulkan lagi naskah-naskah yang saya tulis tangan. Nasibnya mungkin akan sama dengan naskah-naskah terdahulu bila dikirim tanpa diketik. Ia akan lenyap tak berbekas tanpa pernah dimuat.….

“Dengar ya dek, tolong ingatkan kakak. Bila nanti kakak jadi redaktur koran atau majalah, kakak akan membaca tulisan tangan yang datang dan kalau bagus, akan memuatnya! Ingetin ya!”

Rani yang masih kelas 5 SD dan sedang membaca buku cerita, bengong.

Pada akhirnya memang mesin tik pertama saya, tak saya dapatkan dari mengamen puisi. Saya membelinya saat saya duduk di kelas I SMA, kala menjadi Juara II Lomba Baca Puisi yang diadakan dalam rangka HUT Taman Ismail Marzuki. Waktu itu saya menyisihkan Tabah Penemuan dan Ratu Tria yang menjadi Juara III dan Harapan. Bangga sekali saya, karena Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agusta, Danarto dan Jose Rizal Manua yang menjadi juri. Wah, tak sia-sia sering berlatih di atas bis, bukan?

Sewindu setelah pertama kali mengamen puisi di bis itu, alhamdulillah saya menjadi redaktur sebuah majalah. Dan tak sekali pun saya pernah mengingkari janji saya untuk membaca naskah-naskah dari berbagai pelosok yang hanya ditulis tangan…, dan percayakah Anda, saya menemukan begitu banyak bakat luar biasa dari mereka yang mungkin belum punya rezeki untuk bisa membeli mesin tik sendiri, apalagi komputer!


Ket. Foto: Sketsa dari Tabloid Al Fikri




54 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ti2n wrote on Mar 17, '06
reply dulu aaah.... baru baca *hihihihi..bandel :p*
helvytr wrote on Mar 17, '06
ti2n said
reply dulu aaah.... baru baca *hihihihi..bandel :p*

Jieeee yang pertama nih yeee...
Titiiiiiiiin! Adung juga ya ;D he he he
ti2n wrote on Mar 17, '06
helvytr said
“Dengar ya dek, tolong ingatkan kakak. Bila nanti kakak jadi redaktur koran atau majalah, kakak akan membaca tulisan tangan yang datang dan kalau bagus, akan memuatnya! Ingetin ya!”
Subhanallah... ngga ngira deh.... seusia itu Mbak Helvy udah sedemikian berpikiran maju... ck..ck..ck.. *takjub*
ti2n wrote on Mar 17, '06
helvytr said

Jieeee yang pertama nih yeee...
wah.... dapat hadiah doong ...kikikik :p
helvytr wrote on Mar 17, '06

Iya...asal hadiahnya ngambil sendiri ke Depok qeqeqeqe ;D
ti2n wrote on Mar 17, '06
waaahhh.... jauh doong :p
helvytr wrote on Mar 17, '06
ti2n said
Subhanallah... ngga ngira deh.... seusia itu Mbak Helvy udah sedemikian berpikiran maju... ck..ck..ck.. *takjub*

Keprihatinan sering membuat kita lebih kreatif ya say...;D
helvytr wrote on Mar 17, '06
ti2n said
waaahhh.... jauh doong :p

Kan dekat di hati...dibayangin dulu ;D
Pokoknya kalau nanti buku memoar mbak terbit (deuuuu kapan ya?), kamu akan dapat gratis duluan ya ;D. Tulisan ini bermaksud ke sana ;)
cahayahati wrote on Mar 17, '06, edited on Mar 17, '06
Makasih telah berbagi cerita lama ya mbak Helvy, sangat menyenangkan.

Terus terang saya lebih suka membaca kisah nyata dari pada cerpen. Karena itu bacaan saya lebih banyak biografinya daripada novel. Untung semua orang nggak seperti saya, kalau tidak kasihan sekali nanti para penulis cerpen atau novel nggak ada yang beli tulisannya ... hehehe
ti2n wrote on Mar 17, '06
helvytr said

Kan dekat di hati...dibayangin dulu ;D
Pokoknya kalau nanti buku memoar mbak terbit (deuuuu kapan ya?), kamu akan dapat gratis duluan ya ;D. Tulisan ini bermaksud ke sana ;)
iyaa.. dekat di hati.... hiks..hiks... *jadi terharu*

hayuukk... ditunggu buku memoarnya....pasti menakjubkan...!
mau dunk dikasih, lengkap ama tanda tangannya... hehehehe.... :D
helvytr wrote on Mar 17, '06
Makasih telah berbagi cerita lama ya mbak Helvy, sangat menyenangkan.

Terus terang saya lebih suka membaca kisah nyata dari pada cerpen. Karena itu bacaan saya lebih banyak biografinya daripada novel. Untung semua orang nggak seperti saya, kalau tidak kasihan sekali nanti para penulis cerpen atau novel nggak ada yang beli tulisannya ... hehehe

makasih juga dah membaca say...;D

Percaya nggak, 80 persen cerpen yang saya tulis adalah kisah nyata? ;)
Saya suka semua sih, fiksi dan non fiksi...juga menuliskannya! ;D
helvytr wrote on Mar 17, '06
ti2n said
hayuukk... ditunggu buku memoarnya....pasti menakjubkan...!
mau dunk dikasih, lengkap ama tanda tangannya... hehehehe.... :D

Insya Allah dek...;)
Semoga panjang napas mbak ke sana ;D

cahayahati wrote on Mar 17, '06
helvytr said
80 persen cerpen yang saya tulis adalah kisah nyata? ;)
Iya mbak Helvy !!! Maju terus ... kehalusan serta kepekaan perasaan manusia terlihat selalu menjadi pokok tulisan mbak Helvy ... untuk saya yang tinggal jauh di Jerman, membacanya jadi mengasah kembali kepekaan itu ....
kangbayu wrote on Mar 17, '06
wahh speechless... ternyata uji-nyalinya udah sejak sekecil itu ya mbak? hehehe... salut!
helvytr wrote on Mar 17, '06
Iya mbak Helvy !!! Maju terus ... kehalusan serta kepekaan perasaan manusia terlihat selalu menjadi pokok tulisan mbak Helvy ... untuk saya yang tinggal jauh di Jerman, membacanya jadi mengasah kembali kepekaan itu ....

Makasih ya say dah disemangati lagi ;D
Semoga semua yang ditulis dari hati akan selalu sampai ke hati-hati yang membacanya ;))
helvytr wrote on Mar 17, '06
wahh speechless... ternyata uji-nyalinya udah sejak sekecil itu ya mbak? hehehe... salut!

Nanti ada cerita yang lebih seru lagi soal uji nyali ini, saat saya lebih kecil lagi...he he he...
ciput wrote on Mar 17, '06
Saya memang ga bakat bikin puisi, di usia segitu udah kepingin nulis tapi ga pernah berani ngirim ke majalah seperti Mba. Tapi saya juga udah belajar cari duit lho, saya bikin cutting sticker yg dijual di temen2 SMA saya (SMANDEL), baik langsung maupun saat acara2. Buat apa? Buat kemping atau travelling sendiri... keh3x.
srisariningdiyah wrote on Mar 17, '06
helvytr said
Pokoknya kalau nanti buku memoar mbak terbit (deuuuu kapan ya?), kamu akan dapat gratis duluan ya ;D. Tulisan ini bermaksud ke sana ;)
aku mba?????

*ngarep*
agungks wrote on Mar 17, '06
mulai sekarang kalo naik bis dan ada anak kecil yg ngamen dengan berpuisi, pasti gw kasih duit dah...sama aku doain semoga kelak bisa seperti Mbak Helvy
helvytr wrote on Mar 17, '06
aku mba?????

*ngarep*

Ari? Boleh dong...asal kudu datang di peluncurannya (he he he dah mikir ke peluncuran segala ;p)
helvytr wrote on Mar 17, '06
agungks said
mulai sekarang kalo naik bis dan ada anak kecil yg ngamen dengan berpuisi, pasti gw kasih duit dah...sama aku doain semoga kelak bisa seperti Mbak Helvy

Waduh...,dilihat juga Gung..., ibunya yang gemuk dan pemalas ikutan nggak ya di belakangnya? ;p
wandaruni wrote on Mar 17, '06
HUIIIIIBAT!!!! Buntje memang hebaaaat!!! :D
cymanjunetax wrote on Mar 18, '06
helvytr said
“Kalau mau ngamen, pakaiannya jangan keren gitu dong, Neng! Jadi nggak ada yang ngasih uang!” kata kondekturnya sambil nyengir.
prinsip dasar seorang pengamen ya mbak? he..he..he..
Comment deleted at the request of the author.
inci73 wrote on Mar 18, '06
Makasih, mbak. ceritanya sangat menggugah ..
begitulah seharusnya, nggak mudah patah semangat
sikrit wrote on Mar 18, '06
Aduuuuh..mbak Helvy dulu berani ya..Saya pikir keberanian mbak Helvylah yang menjadikan Helvy sekarang ini, tentunya dengan izin DIA juga :)!
Kalau saya orgnya demam panggung mbak hihihi..

Mbak, saya ikut berduka dengan wafatnya PAK RAMADHAN KH hiks..
Semoga beliau diberikan kelapangan ya di alam sana, Amieeen..
kbetty wrote on Mar 18, '06
Waduh .. salut. Mbak Helvy ini dari kecil semangatnya sudah begitu tinggi!
srisariningdiyah wrote on Mar 18, '06
helvytr said

Ari? Boleh dong...asal kudu datang di peluncurannya (he he he dah mikir ke peluncuran segala ;p)
siapa takut???

xixixixixi...
helvytr wrote on Mar 18, '06
HUIIIIIBAT!!!! Buntje memang hebaaaat!!! :D

Namanya kepepet, Net ;p
helvytr wrote on Mar 18, '06
prinsip dasar seorang pengamen ya mbak? he..he..he..

Salah satunya he he he
helvytr wrote on Mar 18, '06
inci73 said
Makasih, mbak. ceritanya sangat menggugah ..
begitulah seharusnya, nggak mudah patah semangat

Sama-sama...
maju terus pantang mundur ya untuk kebaikan ;D
helvytr wrote on Mar 18, '06
sikrit said
Aduuuuh..mbak Helvy dulu berani ya..Saya pikir keberanian mbak Helvylah yang menjadikan Helvy sekarang ini, tentunya dengan izin DIA juga :)!
Kalau saya orgnya demam panggung mbak hihihi..

He he he kalau memang ga salah, insya Allah selalu berani dong sampai sekarang ;D
Alhamdulillah Allah Maha Cinta...

Ita? Demam panggung? Masa seh? ;p
danida82 wrote on Mar 18, '06
Hmm tentang Rijal, gimana kabarnya sekarang ya? mungkin dia nggak pernah menyangka bisa memberi ide Mbak untuk ngamen juga:) Subhanallah Mbak Helvy terus berkarya ya Mbak untuk memberi semangat semua orang:)
utski wrote on Mar 19, '06
subhanallah... mbak Helvy perjuangannya nggak main-main yaaa... kalo inget2 itu lagi perasaannya gimana, mbak? lucu? terharu? uhuhuhu... aku aja bacanya terharu...
imazahra wrote on Mar 19, '06
helvytr said

Keprihatinan sering membuat kita lebih kreatif ya say...;D
Setujuuuuuuuuuuuuu!
Subhanalah, orang besar adalah orang yg menghargai manusia2 *kecil* tanpa nama, salute ku untukmu Bunda!
lelakibiasa wrote on Mar 19, '06
pengen punya keberanian kaya bunda :)
adesiti wrote on Mar 19, '06
Jadi ingat dulu mbak, waktu sering ikut lomba baca puisi. Bedanya ade jarang menang he he he... Pagi ini ade longok multiplyku, eh mbak helvy baca cerpenku. Duuuh.... bangga banget deh. Insya Allah, jadi pelecut semangat....
iwan95 wrote on Mar 20, '06
Subhanalah, orang besar adalah orang yg menghargai manusia2 *kecil* tanpa nama
ke-RendahHati-an lah yg membuat seseorang "Besar" sesungguhnya :)
wahyu25 wrote on Mar 20, '06
helvytr said
Pokoknya kalau nanti buku memoar mbak terbit (deuuuu kapan ya?)
wah yang ini 100% dinantikan ... ditunggu pengumumannya di sini mbak. Saya sih ndak usah gratis deh ... beli aja :)
hannahabiba wrote on Mar 20, '06, edited on Mar 20, '06
Subhanalloh.... aku jadi terharu Bude
vin4 wrote on Mar 20, '06
Subhanallah.. merinding bacanya Bundaaa, saluuut banget buat Bunda, dan malu pada diri sendiri yg dikaruniai kemudahan tapi tak pula segera bergerak. insya allah yg ini jadi motivasi baru yg mencerahkan dan menyemati, makasih banyak ya Bun ^_^
helvytr wrote on Mar 21, '06
Hmm tentang Rijal, gimana kabarnya sekarang ya? mungkin dia nggak pernah menyangka bisa memberi ide Mbak untuk ngamen juga:) Subhanallah Mbak Helvy terus berkarya ya Mbak untuk memberi semangat semua orang:)

Iya, Da...:)
Saya sih nggak pernah bertemu lagi sama ijal. Cuma samar-samar ingat wajah kecilnya ;).
Trims ya sudah disemangati ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06
utski said
subhanallah... mbak Helvy perjuangannya nggak main-main yaaa... kalo inget2 itu lagi perasaannya gimana, mbak? lucu? terharu? uhuhuhu... aku aja bacanya terharu...

Begitulah Suci...gado2...;D
Cuma merasa mulai perlu mengumpulkan dalam bentuk tulisan, paling tidak untuk anak-cucuku ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06, edited on Mar 21, '06
Setujuuuuuuuuuuuuu!
Subhanalah, orang besar adalah orang yg menghargai manusia2 *kecil* tanpa nama, salute ku untukmu Bunda!
Alhamdulillah....
Hi adindaku sayang! salut juga untukmu! Tetap semangat ya ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06
pengen punya keberanian kaya bunda :)

Wah Fachrul mah kurang berani apa ya, dek? ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06
adesiti said
Jadi ingat dulu mbak, waktu sering ikut lomba baca puisi. Bedanya ade jarang menang he he he... Pagi ini ade longok multiplyku, eh mbak helvy baca cerpenku. Duuuh.... bangga banget deh. Insya Allah, jadi pelecut semangat....

Iya, kemarin saya nyempetin berkunjung ;D. Diteruskan novelnya...lebih baik kalau terus menggali warna lokal sana, biar cerpen or novelmu tambah keren ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06
iwan95 said
ke-RendahHati-an lah yg membuat seseorang "Besar" sesungguhnya :)

Betul sekali...,
dari tanah kan selalu kembali ke tanah...,siapkah kita? Muhasabah senja hari nih dek untukku ;)
helvytr wrote on Mar 21, '06
wahyu25 said
wah yang ini 100% dinantikan ... ditunggu pengumumannya di sini mbak. Saya sih ndak usah gratis deh ... beli aja :)

Terimakasih, Andrie..., akan selalu ada pengumumannya di sini selama multiply ada terus he he he. Jzkml ya...
helvytr wrote on Mar 21, '06
Subhanalloh.... aku jadi terharu Bude

Terharu biasanya akan membuat kita bergerak lagi dari hati ;D
helvytr wrote on Mar 21, '06
vin4 said
Subhanallah.. merinding bacanya Bundaaa, saluuut banget buat Bunda, dan malu pada diri sendiri yg dikaruniai kemudahan tapi tak pula segera bergerak. insya allah yg ini jadi motivasi baru yg mencerahkan dan menyemati, makasih banyak ya Bun ^_^

Sama-sama Vina sayang...masih suka ngumpul sama FLP bandung ? :D
mamaabram wrote on Mar 22, '06
Subhanallah, saya salut dengan semangat Mbak Helvy, luar biasa!
helvytr wrote on Mar 26, '06

Makasih yaaaa...semua juga bisa! Ayo selalu semangat menjalani hidup! ;D
karitasurya wrote on Jul 26, '06
Bunda, aku salut deh sama bunda soalnya tiap yg bunda impikan selalu jadi kenyataan, (jadi iri deh) aku pengen kaya bunda tapi nggak dibidang tulis menulis x yah, tapi dibidang lain, kasih tipsnya dunks!
jmes17 wrote on Oct 11, '07
WAH...mbak bener2 hebat yha...
selamaat yha mbak

salam saya...
james
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.