
Sajak Februari
:1991-1995
1 cinta adalah rasa yang kuucap dalam setiap desah dan cuaca tak sampai-sampai getarnya padamu
2 setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi seperti aku yang tak pernah berhenti menari dalam mimpi tentangmu dan jatuh
3 maka kutanyakan pada mungkin ia memandangku dengan mata kaca mengecup luka dan berkata pergi dan pakailah kerudung airmatamu sebab tak ada tempat untuk cinta di sini
4 Engkaukah itu yang berkata? Semua pejalan di bumi, semua pencinta pasti akan menderita tapi bagaimana agar tiap gerak berarti hingga malaikat pun sudi mengecup semua luka kita yang mawar
engkaukah itu yang berkata, cinta? sementara diam-diam kita berikan keping luka dan risau kita pada angin yang tak desau
5 Di dalam bis yang membawa banyak orang, Kau cari aku hari itu. Tapi kau tak tahu aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita Mengapa kau sisakan peta buram yang sama hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu
Di antara dinding dingin di sekitar kita kau cari aku hari itu tapi kau tak tahu aku telah mencarimu bermusim-musim dan selalu hanya pilu yang memeluk dan membujukku Pulanglah, kau sudah begitu lelah
6 Begitulah kata telah lama berhenti pada napas dan airmata Di manakah kau, di manakah aku? Labirin ini begitu sunyi dan cinta terus sembunyi
7 Seperti gelombang yang setia pada lautan aku telah lama kau campakkan ke pantai paling rindu itu tapi sebagai ombak aku memang harus kembali meski dengan luka yang paling badai
8 Begitulah perempuanmu memintal lalu menguraikan kembali kenangan di sepanjang jalan kaca yang retak itu Kau mungkin lupa pernah menitipkan kilat asa di mataku yang menjelma beliung namun tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang selalu kutemukan jejak juga napasmu di jalan raya kehidupanku
Membayangkan wajahmu aku pun bermimpi tentang matahari lain yang menyala suatu masa Mungkin kita bisa saling memandang lama melepas beliung abai yang menyiksa selama ini
9 :Aku telah berjuang untuk melupakanmu
Seperti baru kemarin kau datang dan kita bicara sambil menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu Kau bilang tak mungkin, sebab ada yang lebih penting kau selesaikan
Seperti angin yang tak sadar disapa waktu aku berpura tak mendengar Dia akan datang, kataku. Tapi katamu, kau akan datang setelah urusan selesai. Bagaimana kalau dia yang tiba lebih dahulu? Siapakah yang harus kuabaikan? Siapa yang perlu kulupakan?
Kita terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu suara sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang beberapa mahasiswa dengan jaket kuning melintas mungkin sebentar lagi gerimis
Dalam sepi itu tiba-tiba kita pun teringat perkataan seorang sahabat Katanya kita punya sesuatu, semacam hubungan indah, yang tak bisa dirumuskan
Ketika kau pulang senja itu aku tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi untuk waktu yang lebih dari lama Menyakitkan, tapi bukankah tak semua kebersamaan harus jadi monumen kadang lebih baik dibuang biar usang dalam tong sampah
10 Dan akhir adalah permulaan kau aku tak pernah menapaki mula juga mungkin tak pernah sampai pada selesai seperti puisi yang kutanam di kuntum hatimu
11 Hai
katamu aku tetap perempuan itu tak henti menyelami lautan huruf demi yang Maha Cinta
dan kau sangat tahu atas nama cinta pula telah kuputuskan berhenti menuliskan kenangan tersisa titik tanpa koma pada Februari ke lima
(Helvy Tiana Rosa)
  | I always adore this simple writing... Bring Myself to the Real Me... Thanx mBak Helvy :) |
 | helvytr wrote on Feb 17, '05, edited on Feb 17, '05 Wan, ini cuma bisa-bisaan aja. Puisi ini dah lama banget ditulis. Tepatnya Februari 1995! Cuma nggak pernah dipublikasikan, takut ada yang tersungging ;). Tapi pas saya baca lagi beberapa hari lalu...kok agak keren ya (hi...hi ge er sendiri). Ya kali aja bermanfaat buat yang lain. Cinta kan selalu membuat kita produktif ;). Aniway thx banget ya udah berkunjung! |
 | jangan heran kalau saya mampir2 lagi ya mbak.. sebab pengen baca lagi dan lagi.. :D |
 | He he he..., dengan senang hati, Tita sayang ;D
|
 | mbak..he..he itu foto dicopot dari album lamanya ya he..he.. Jadi inget lihat2 album Mbak Helvy yg penuh..nuh dgn foto2 segala macam orang...:) Dirangkai2 lagi plus komentarnya, udah kayak scrapbooking itu..:) |
 | :) emang keren kok mba Helvy!
ahhh cinta.. |
 | waktupun berlalu hatipun tak lagi menyimpan duka lama saat kebahagiaan satu demi satu memenuhi indahnya bahagia menawarkan kegetiran mengganti memori kelabu dengan seulas senyuman senyuman penuh cinta
|
 | mbak, puisinya dipasang aja di buku chicken soup-nya MPers kan tentang cinta....:) |
 | Saya kira ini kisah cintanya Mba Helvy dulu. Maaf, saya memang kurang bisa memahami bahasa puisi. Tapi kalo emang bener siapakah sosok yang mengamini ubin, dinding dan pohon jambu itu ? <----"pengen tahu dot kom" :D |
 | Bagus nian Mbak Helvy, I love it... |
 | huuuuuuuu... kata-kata sederhana, tapi sangat menyentuh mbak... salut |
 | ahh...bagus banget mbak...:)
|
 | keren euy.. luka yang badai... ini hasil dari otak kanan. Bukan otak kiri. Kreatif, berani, dan menancap pada maksud yang hakiki. |
 | aduuuuuuh, brugg!! (sampe kejedot mbak, saking terharunya) |
 | oh My.. puisinya bagus sekali Mbak.. saya sampai berkaca-kaca bacanya...
oya.. salam kenal lho...
|
 | tadinya aq penasaran ma judulnya krn itu tanggal lahirku...tapi setelah baca..... ga bisa berucap deh....no coment....bagus bangetttt....... |
 | O, kamu lahir 5 Februari ya dek?
Iya...ini salah satu puisi yang paling aku suka ;D. dah lama banget juga....
|
 | Yupp...benul...(eh...mo nulis benar ato betul bingung jadinya benul deh) dulu waktu smp aq suka nulis puisi n pernah ikut lomba mengarang di kabupaten waktu sd tp sekarang ga bisa lagi...karna tak pernah diasah lagi,tersingkir oleh perjalanan mencoba mempertahankan hidup sendirian.... |
 | ada yang bergetar didadaku membaca bait-bait katamu, Bunda, meski itu kenangan masa lalu, seperti sebuah kasih tak senada, perjuangan tanpa koma di masa muda, tapi aku belum menemukan spiritualitas disana benarkah itu untuk seseorang atau untuk Dia sang penuntun jiwa |
 | ha ha ha...untuk seseorang di masa lalu yang kini tak begitu kukenang ;p
|
 | Subhanallah..
Seandainya bisa merangkai kata seindah itu :) |
| |