 Ketika remaja, saya pernah begitu "jatuh cinta" pada Putu Wijaya! Saya membaca cerpen-cerpennya yang selalu membuat jantung ini berdenyut lebih cepat dan meneror mental saya. Saya mulai menonton pertunjukan dramanya yang juga beraliran sama dengan cerpen-cerpen dan novel yang ia tulis. Ketika remaja seusia saya sedang tergila-gila dengan bacaan remaja tahun 80-an, maka saya tergila-gila pada karya-karya Putu Wijaya, kemudian juga Budi Darma, Goenawan Muhammad dan Taufiq Ismail. Pada suatu saat, saya berkesempatan bertemu Putu Wijaya dalam salah satu acara di Taman Ismail Marzuki. Saya menyeruak susah payah di tengah kerumunan untuk meminta tandatangannya. Ia menatap saya yang masih kelas II SMP dan bertanya, "Siapa namamu?" "Helvy, nama saya Helvy, Pak!" "Kamu boleh panggil saya Mas," katanya tertawa. Saya menerima tanda tangan, juga sebaris pesan yang ia tulis di notes saya. Saat pulang ke rumah pesan itu terus menerus saya baca. Kemana pun pergi, pesan itu menyertai saya. Melekat di benak dan hati saya: Helvy, menulis adalah berjuang!Saya terus membaca karya-karyanya yang mungkin untuk remaja seusia saya sangat aneh, saya menonton pertunjukan-pertunjukannya dan terbengong-bengong melihat caranya memonologkan cerpen-cerpen yang sering bahkan belum ia tulis, dan dikarangnya seketika! Ia menjadi sastrawan yang terus berkibar dan eksis dalam penulisan cerpen, novel, drama, juga dalam pertunjukan teater yang membawanya keliling dunia. Sementara saya tertatih-tatih menulis dan menulis. Helvy, menulis adalah berjuang!Tulisan itu menemani saya di depan mesin tik, lalu kemudian, komputer saya. Saya pun menyadari, bahwa menulis pada hakikatnya memang berjuang. Seorang penulis atau pengarang akan berjuang untuk mendapatkan ide yang menarik, berjuang untuk mengolahnya dalam kalimat-kalimat yang juga menarik, berjuang untuk menyampaikan sesuatu yang bermakna bagi pembaca, berjuang untuk bisa mempublikasikannya, berjuang untuk terus menulis, untuk tak berhenti menuliskan nurani yang mendesak-desak jiwa dan kepalanya.... Selain menonton pertunjukannya, sesungguhnya saya tak pernah bertemu langsung dengan Putu Wijaya setelah kejadian itu. Tapi saya terus menerus mengiriminya surat yang anehnya tak pernah saya pos-kan kemana pun. Hari berlari....Saya semakin giat menulis dan mempublikasikan karya-karya saya... Enam belas tahun kemudian, saya mendapat alamat E-mail Putu Wijaya dan mengirimkan kabar bahwa apa yang pernah ia tulis di notes saya, betul-betul memacu saya menjadi penulis. Saya tak menyangka, ketika kemudian saya terima balasannya yang sangat rendah hati: Jakarta 21-05-01Helvy,Suratmu membuat saya kagum. Pada usia 31, usia ketika saya masih jadi wartawan TEMPO mengurus desk hiburan, desk yang paling sepele di majalah itu, kamu telah melakukan begitu banyak hal. Begitu banyak prestasi yang kamu miliki. Yang paling memalukan, begitu banyak yang tidak saya ketahui.Heran juga bagaimana mungkin ada dua buah kalimat yang dilemparkan iseng-iseng berhasil membangkitkan seorang menjadi pengarang seperti kamu. Pastilah bukan karena kalimat itu, tetapi karena kamu. Kalimat-kalimat itu hanya "kecelakaan" kecil yang kalau bukan dia, pasti ada yang lain yang akan menemani kamu saat-saat sedang sendirian dalam bekerja di dalam pertapaanmu.Membaca suratmu saya menemukan kejujuran, ketulusan dan kesederhanaan yang bening. Rasanya itulah kekuatan yang sudah menjadikan kamu seorang pengarang dan akan memberikanmu lebih banyak lagi. Semoga kekayaan itu tidak hilang.Selamat berjuang Helvy. Buat pekerja seperti kita tidak ada tujuan akhir, tidak ada kata tamat, juga tak ada kata lulus, kita selalu diuji dan dalam posisi krisis. Lebih dari itu tak ada orang lain, kamu selalu sendirian dan akan tetap sendiri, meskipun kamu tak percaya.Salam buat juniormu, anak saya juga seusia itu sekarang.PutuSaya masih penggemar Putu Wijaya. Penggemar yang sesungguhnya "tak berani" mengganggu, untuk sekadar bertanya ini itu. Maka saya pun "tak berani" terus mengirimkan surat atau email padanya. Tapi keberanian saya untuk terus berjuang melalui tulisan semakin terasa gila, setidaknya bagi saya sendiri. Suatu hari, delapan belas tahun setelah tulisan di notes itu, tiga tahun sesudah email balasan Putu Wijaya, saya dikejutkan oleh sebuah undangan dari Amerika Serikat! Undangan dari Universitas Wisconsin untuk mengisi acara di sana! Saya terpana. Ah, ini akan menjadi pengalaman pertama saya sebagai penulis muda..., pergi ke Amerika Serikat! Saya diundang ke sana karena saya menulis! Ini hebat! Maaf, boleh saya tahu, darimana referensi yang Anda dapat, hingga mengundang saya? tanya saya melalui e-mail. Profesor Ellen Rafferty yang mengundang saya, menyebut satu nama yang membuat saya semakin terpana: Putu Wijaya! Ia pernah lama menjadi dosen tamu di sini....Tiba-tiba saya ingin menangis. Kami hampir tak pernah berinteraksi, namun orang yang saya kagumi itu ternyata cukup "mengikuti" saya. Pulang dari Amerika Serikat, ada banyak acara sastra yang mempertemukan kami..., termasuk kemarin, di Workshop Cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara. Saya, Budi Darma, Oka Rusmini dan Joni Ariadinata menjadi pembimbing dari Indonesia. Danarto dan Putu Wijaya menjadi penceramah. "Hai, ada Helvy," katanya melambai dari depan panggung. Ah, dia masih seperti lelaki yang saya jumpai dulu, dengan penampilan yang selalu prima, dan tak henti memukau kami--meski kadang sedikit nakal-- kala membacakan cerpen-cerpennya. "Jangan pernah kalah," katanya--dalam cerpen yang ia monologkan--- kemarin. "Kalau kau harus kalah, kalahlah dengan gagah dan indah!" Dan seperti 23 tahun lalu, saya masih mencatatnya..., masih akan terus mencatatnya....  | wow...very inspiring, Mbak...Thanks for sharing....
salam buat Pak Danarto kalau ketemu lagi (kalau Pak Putu saya tidak kenal secara pribadi...) |
 | Pengalaman yang indah. Rasanya saya jd lebih faham kenapa seseorang disebut sbg inspirator |
 | Pengalaman yang indah. Rasanya saya jd lebih faham kenapa seseorang disebut sbg inspirator |
 | Pengalaman yang indah dituangkan dengan cantik...jadinya menginspirasi siapapun yang membacanya...subhanallah... |
 | Touchy story mbak helvy. Thanks for sharing |
 | elbintang wrote on Aug 2, '08, edited on Aug 2, '08 wah! subhanallah... jadi ingat hukum kekekalan energi...
terima kasih mbak Helvy, cerita yang kaya... |
 | menyentuh banget. Sepertinya seorang Putu Wijaya juga mengagumi Mba Helvy. Jadinya saling menginspirasi dan memotivasi. Indah.. |
 | wuiihhh!!! bisa gitu ya??? |
 | he..he..he.. very nice story :D |
 | makasih kak helvy buat ceritanya... |
 | wah, sekarang mbak helvy tulis di blog saya ya mbak..kata-kata penyemangat u berjuang |
 | such inspiring story, jadi spechless |
 | mbak helvy, adakah kata-kata penyemangat buatku juga? |
 | such inspiring putu!!!.. meski pernah tergelak mendengar cerita mas putu pernah on**i di mejanya GM sewaktu dia kerja di tempo... hahahaha.. nakalnya mas putu.. tapi dia dramawan, penulis yang hebat..
|
 | di Usia 23 tahun itu saya baru memantapkan diri untuk belajar menulis dgn sungguh2:(( terlalu lambat dan lebih parah, itupun tidak konsisten:((((( |
 | wah.. Mba Helvy memang masih seperti dulu.. pekerja keras yg Ulet.. keep on Moving mba ku yg manis.. |
 | Mbak Helvy.. saya bener bener terharu baca kisah perjuangan mbak dalam meniti karier dibidang menulis.... kata yang baik bisa memotivas seseorang untuk lebih baju......hidup mbak Helvy maju terus dengan karya karya sastranya... |
 | Tulisan Mbak Helvy ini benar-benar ditulis dari dalam hati, karena itu pula, begitu dibaca dia langsung masuk ke dalam hati... Aku juga "jatuh cinta" sama Mbak Helvy sejak SMA lho, sejak kawan-kawan di SKI SMA 5 Surabaya memperkenalkanku dengan cerpen-cerpen Mbak di Majalah Annida dan Ummi (ups ketahuan baca majalah perempuan, hehehe. Ini rahasia di antara kita yaa Mbak...  )... Tapi sayangnya, sampai sekarang aku belum pernah bertemu muka dan dapat tandatangan dari Mbak Helvy  ... |
 | so sweet... mudah2an mbak helvy bisa jadi 'putu wijaya' buat kita semua ya :D |
 | thx utk inspiring storynya. ini postingan yg indah dan hidup ditengah keributan tentang ryan yg menyesakkan.
dulu waktu kuliah saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sastra UGM hanya untuk sekedar membaca tulisan Putu Wijaya |
 | Buat pekerja seperti kita tidak ada tujuan akhir, tidak ada kata tamat, juga tak ada kata lulus, kita selalu diuji dan dalam posisi krisis. Lebih dari itu tak ada orang lain, kamu selalu sendirian dan akan tetap sendiri, meskipun kamu tak percaya.
--> Rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama...membumi mbak...Rasanya saya tidak percaya kalau "perasaan selalu sendirian" itu hadir dalam kata2 seorg Maestro...girahnya hadir dalam kata2 sederhana... Dan ini, "Jangan pernah kalah," katanya--dalam cerpen yang ia monologkan--- kemarin. "Kalau kau harus kalah, kalahlah dengan gagah dan indah!"
Thanks mbak Helvy... |
Comment deleted at the request of the author.
 | sikrit wrote on Aug 2, '08, edited on Aug 2, '08 aku dah baca kisah ini di versi Risalah cintaaaa hehehe...kagum ama keuletan mbak Helvy, gk heran kalo skrg jadi HTR yg skrg.. |
 | gk mbak, sebagian isinya udha aku baca di mana gitu, jangan jangan di blog juga ya..mbak Helvy yg ketemu pak Putu di TIM yg baca puisi
kangen mbak juga :( |
 | hehhe kok aku ngotot dot com...hihih pokoknya aku kangen ama kalian... |
 | waaah masak iya ya, dah kena penyakit pikun aku hihihi..barusan ngubek ngubek Risalah Cinta emang gk ada, duuh parah aku lupanya. maaf ya mbak :) Oke mbak sun sayang juga untu Nadyaaaa.... met bobo ya mbak.. |
 | Met bobo juga say... pingin kilik2 kaki Ilhan ;p
Salam juga buat Pat ya, Ta!
|
 | mantap! saya pernah diskusi soal film perang dengan pak putu di CCF Salemba. Orangnya sangat rendah hati. Jadi ingat tahun 1993, saat saya baru masuk FSUI dan ada rapat Formasi di gang material, Depok. Di sana, kalau tak salah tak jauh dari cermin, ada tulisan: "tulis apa saja, tulis aja saja, tulis aja saja". Dan itu menginspirasi saya saat, itu, hingga sekarang. pemilik kamar kos-kosan sederhana itu adalah mbak Helvy. :) |
 | kereeeennn, mbak, makasih udah share yah |
 | Jadi ingat tahun 1993, saat saya baru masuk FSUI dan ada rapat Formasi di gang material, Depok. Di sana, kalau tak salah tak jauh dari cermin, ada tulisan: "tulis apa saja, tulis aja saja, tulis aja saja". Dan itu menginspirasi saya saat, itu, hingga sekarang. pemilik kamar kos-kosan sederhana itu adalah mbak Helvy. :)  Hahaha ada ada aja, Ky... Tapi kamu juga banyak menginspirasi lho, dek! Sukses ya...:D
|
 | bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....... kangen banget sm bunda helvy. duh, silnas kemaren gak dateng ya bunda hiksssss |
 | whuaaahhhh... cerita yang inspiratif...! dua-duanya hebat :-) |
 | Semoga bermanfaat dek. Thx yaaa
|
 | idasw wrote on Aug 3, '08 mengharukan sekali Mbak. Beberapa kalimat yang inspiratif boleh kukutip ya Mbak buat memotivasi! |
 | Thx juga ya Mbak Bun...:) |
 | makasih tulisannya mbak.. inspiring..
aku pengagum mbak helvy.. meski gak selalu reply :) |
 | Ibu, terimakasih tulisan Indahnya... |
 | Sama-sama Novi. Keep in touch ;) |
 | Ternyata hebat ya mbak jadi penulis itu... bisa memberikan inspirasi pada orang yang ingin terus belajar dan berjuang. Thanks for sharing.. :-) |
 | hebat..hebat!! mau donk dikasih inspirasi, biar ketularan jadi penulis :D |
 | sukses tuk mbak helvy... orang pertama yg saya kenal sebagai penulis islam dan bapak taufik... kebanggaan buat suport diri sendiri tuk terus belajar menjadi pejuang melalui pena... salam dari ilma ( flphk ) |
 | kalo mbak baca cerpen cerpennya Putu Wijaya membuat jantung berdenyut lebih cepat dan meneror mental, berarti itu sudah menular pada karya-karya mbak |
 | wow, salut ^_^ *pada kalian berdua ;) |
 | like teacher like student ya bun ;) |
 | thanks m helvy, blognya bener2 inspiring, apapun yang kita tekuni adalah perjuangan, jadi makin semangat berjuang nih :), tx sekali lagi, i luv u'r site |
 | Subhanallah, Kak... Sekali lg tulisan Kakak benar2 membuat saya termotivasi utk berbuat yg terbaik, day by day. Semoga ALLAH senantiasa memberkahi perjuangan Kakak! Amiiin... |
 | mbak helvy penuh inspirasi...:-) |
 | bagus banget kata-katanya mbak |
 | Deep touching & inspiring,, Mbak Helvy mohon izin untuk di posting di milis ya,,, Jazakillah... |
 | Helvy, selalu meng_inspirasi......... |
 | The center of inspiration... *berharap dpt meniti jejak seperti mbak...*
^__^ |
 | wah ceritany inspiratif banget mbk. |
 | kereennnn....... I like it so much..:) |
 | soeto wrote on Sep 22, '10 Entah berapa kali sy baca tulisan ini. Entah mengapa tetap saja saya maerinding dibuatnya. Terutama surat Putu wijaya untuk mba Helvy |
 | TERUS BERJUANG MBAK HELVI,,,,,TETAP SEMANGAT!!!!!!!!!! |
| |