
ABDURAHMAN FAIZ; SASTRAWAN DAN MOTOR KEBANGKITAN
PENULIS CILIK INDONESIA
( Oleh:
Edi Sutarto)
SIAPA MAU JADI PRESIDEN?
Menjadi presiden itu berartimelayani dengan segenap hatirakyat yang meminta sukadan menyerahkan jutaankeranjang dukanyapadamu(Abdurahman Faiz, 2003)
Nama Faiz mendadak dikenal publik ketika ia menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2003) dengan juri: Seto Mulyadi, Ratna Sarumpaet, Agus R. Sarjono dan Tika Bisono. Surat yang ditujukan kepada Presiden ke 5 Republik Indonesia; Megawati Soekarnoputri tersebut kemudian beredar kemana-mana terutama melalui internet. Banyak sekali tanggapan mengenai surat yang ditulisnya saat kelas II SD tersebut. Faiz pun diserbu wartawan media cetak dan elektronik. Ya, meski terkesan polos tetapi surat itu menunjukkan bahwa penulisnya sangat peka akan situasi sosial politik di Indonesia. Kepekaan yang menyentil para elit politik dan para pejabat, karena lahir dari anak yang belum berusia 8 tahun!
Faiz lahir di Jakarta, 15 November 1995 dari pasangan Tomi Satryatomo dan Helvy Tiana Rosa. Ia telah “mengucapkan” puisi-puisinya sejak usia 3 tahun dan menuliskannya di komputer sejak umur 5 tahun.
Pertama kali Faiz tampil membacakan puisi-puisinya yang pada waktu itu belum dibukukan, adalah atas undangan Nurcholish Majid pada acara peluncuran buku beliau: “Indonesia Kita” yang mengundang ribuan tokoh nasional. Faiz yang masih kelas II SD khusus tampil membacakan beberapa puisi tentang Indonesia, termasuk menyentil kelakuan para koruptor dan elit politik negeri ini. Ia mendapat sambutan yang sangat meriah. Cak Nur bahkan merasa perlu memberikan bukunya secara seremoni pada Faiz bersama beberapa tokoh nasional lainnya. “Karya-karya Faiz sangat menyentuh nurani, sekaligus menyentak kesadaran kita dalam berbangsa dan bernegara,” tutur Nurcholis Majid yang membingkai karya Faiz di ruang kerjanya.
Tak lama kemudian, Faiz diundang pula untuk membacakan karyanya dalam acara deklarasi Anti Politikus Busuk di Jakarta (2004) bersama mantan Presiden: Abdurahman Wahid, Faisal Basri, dan sejumlah tokoh nasional lainnya.
Selanjutnya Faiz kian sering diundang membacakan dan membicarakan karya-karyanya dalam berbagai forum, termasuk di hadapan Presiden RI ke 5: Megawati Soekarno Putri, Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, sejumlah menteri dan tokoh-tokoh nasional lainnya.
Megawati mengungkapkan kekagumannya pada kecerdasan Faiz lewat surat balasannya pada Faiz (2003). Faiz juga diundang dalam pencanangan gerakan anti narkoba di Stadion Gelora Bung Karno bersama Presiden Megawati dan membacakan puisinya. Dalam Debat Capres di sebuah stasiun televisi swasta tahun 2004, di mana Faiz diundang sebagai salah satu panelisnya, Amien Rais berkomentar, “Luar biasa. Mas Faiz ini masih sangat muda, tetapi pemikirannya sangat dalam.” Sementara saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara dalam pencanangan gerakan berkirim surat nasional untuk anak Aceh dan Nias (2005), Presiden berkata, “Selamat, Faiz. Tulisanmu sangat menyentuh pikiran dan hati.”
Pada tahun yang sama, puisi Faiz “Sahabatku Buku” menjadi juara Lomba Cipta Puisi Tingkat SD seluruh Indonesia yang diadakan Pusat Bahasa Depdiknas. Ia juga terpilih sebagai Anak Berbakat Indonesia versi Nutrilon yang ditayangkan di Metro TV (2004).
Buku kumpulan puisi pertama Faiz
Untuk Bunda Dan Dunia (DAR! Mizan, Januari 2004) sebenarnya adalah puisi-puisi yang ia tulis saat berusia 5-7 tahun dan terbit saat ia berusia 8 tahun. Buku yang diberi pengantar oleh Taufiq Ismail tersebut meraih Anugerah Pena 2005 serta Buku Terpuji Adikarya IKAPI 2005. “Sebuah buku yang sangat indah sekaligus sarat makna dan sangat menyentuh,” ujar Nina Armando dari Ilmu Komunikasi UI, salah satu juri.
Ya, meski masih kanak-kanak, karya karya Faiz sarat dengan perhatian terhadap para wong cilik. “Setelah berpuluh tahun membaca karya sastra anak Indonesia, baru kali ini saya menemukan kepolosan, kesederhanaan, kejernihan, disertai kepedulian yang sangat pada “teman-teman kecilku” yang miskin,” komentar Riris T. Sarumpaet, profesor di bidang sastra anak, yang mengutip puisi-puisi Faiz dalam pengukuhan guru besarnya di UI. Di luar itu Faiz juga berbicara mengenai berbagai persoalan sosial, budaya dan politik dengan gaya yang khas. “Penyair cilik yang sangat peka,” tulis Detikcom.
Untuk Bunda dan Dunia juga merupakan buku pertama yang diterbitkan dalam serial KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) divisi DAR! Mizan (bersama sebuah buku karya Izzati), yang kemudian menginspirasi dan memicu lahirnya para penulis cilik lainnya di negeri ini. Seri buku KKPK rupanya sangat booming, terjual jutaan kopi dan mendorong anak Indonesia lainnya untuk membaca juga menulis. Pada tahun 2008, para penulis cilik KKPK dimotori Faiz dan Izzati menyelenggarakan Konferensi Penulis Cilik Indonesia I (Pencil) dan merekomendasikan beberapa kebijakan dalam hal perbukuan di Indonesia.
Buku kedua Faiz:
Guru Matahari (DAR! Mizan 2004), terbit saat ia masih berusia 8 tahun pula, diberi pengantar Agus R. Sarjono mendapat nominasi Khatulistiwa Literary Award 2005. Masuknya Faiz dalam nominasi penghargaan nasional yang didominasi oleh para sastrawan terkemuka di negeri ini mendapat berbagai tanggapan dari dunia sastra Indonesia. Seorang penyair yang belum pernah membaca puisi Faiz dengan sinis berkata, : “Masak puisi anak SD disejajarkan dengan para sastrawan senior?” Namun banyak pula kalangan menyatakan bahwa karya-karya Faiz layak sekali masuk dalam nominasi penghargaan tersebut. “Puisi Faiz tidak seperti puisi anak-anak pada umumnya. Faiz itu penyair. Ini tak dapat dibantah!” kata Agus R. Sarjono. “Sejujurnya, membaca sajak-sajak Faiz saya sungguh-sungguh tercengang. Ia dikaruniai bakat kepengarangan yang luar biasa,” komentar Ahmadun Y. Herfanda, Penyair dan Redaktur Sastra dan Budaya Republika.
“Saya membaca buku Faiz dan mendengar wawancaranya di Radio BBC. Suaranya memang anak kecil, tetapi pemikirannya sangat tak disangka. Saya terkejut mendengarnya,” papar Prof. Dr. Budi Darma, sastrawan dan kritikus terkemuka Indonesia. Sedangkan Taufiq Ismail berkata,“Saya tersentak membaca puisi Faiz. Puisi-puisi Faiz sangat menggugah nurani siapapun yang membacanya. Selain itu kemampuan Faiz menulis dalam perkiraan saya sepuluh tahun melampaui umurnya.”
Buku ketiga Faiz:
Aku Ini Puisi Cinta (DAR! Mizan 2005) membawanya meraih penghargaan Penulis Cilik Berprestasi dari Yayasan Taman Bacaan Indonesia (2005). Buku keempatnya sebuah kumpulan esai berjudul: Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR! Mizan 2005). Dalam kumpulan esai yang ditulisnya pada rentang tahun 2003-2005 tersebut Faiz banyak mengungkapkan gagasan dan perasaan yang dijalinnya dengan sangat menyentuh.
”Saya tidak bisa tidur setelah membaca buku Faiz ini,” kata seorang ustadz. ”Seharusnya buku ini dibaca oleh semua anggota DPR dan MPR,” kata Suryama, anggota DPR RI pada waktu itu. “Faiz sangat humanis”, komentar Seto Mulyadi via Warta Kota, sedang Koran Tempo menulis bahwa karya-karya Faiz bukan cuma menggugah, tetapi juga menggelitik saraf kritis orang dewasa. Senada dengan itu, almarhum penyair Hamid Jabbar berkata, “Karya-karya Faiz wajib dibaca siapa pun, dari mulai kanak-kanak hingga para pemimpin di negeri ini, biar semakin terasah nurani.” Karena itu pula, Aripin, Kepala Sekolah SDIT Al Hikmah, Bandung menjadikan buku-buku Faiz sebagai bacaan wajib di sekolah tersebut. Alasannya? “Buku-buku Faiz sangat bagus untuk mengembangkan karakter anak bangsa.”
Sebelumnya tulisan-tulisan Faiz pernah dimuat di sejumlah koran nasional antara lain Kompas, Koran Tempo, dan Republika. Bersama beberapa penulis cilik lainnya, Faiz menggagas dan menerbitkan kumpulan cerpen
Tangan-Tangan Mungil Melukis Langit (LPPH 2006), untuk membantu biaya sekolah bagi teman-teman kecil mereka yang tinggal di kolong jembatan tol. Karyanya juga terdapat dalam antologi bersama:
Matahari Tak Pernah Sendiri (1 dan 2), Jendela Cinta (GIP 2005),
Antologi Puisi Empati untuk Yogyakarta (2006) dan
Magic Cristal (Mizan, 2008).
Meski sering bertemu berbagai tokoh dan artis, yang paling mengesankan bagi Faiz justru ketika ia berkesempatan membacakan puisi-puisinya di depan teman-teman kecilnya di tepi kali Ciliwung, di kolong tol Penjaringan, serta di panti-panti asuhan. Ia bahkan memiliki sejumlah adik dan kakak asuh yang ia sekolahkan dari royalti hasil menulisnya.
Hingga kini banyak instansi mengundangnya untuk memberi ceramah motivasi, menjadi pembicara dalam berbagai seminar, diskusi dan workshop menulis keliling Indonesia. Sejumlah perusahaan negeri dan swasta kemudian menjadikan beberapa karya Faiz, juga profilnya sebagai bahan iklan layanan masyarakat mereka, antara lain Garuda Food (2005), BNI (2006) dan Telkom (2007).
Tahun 2006 Faiz dinobatkan sebagai Anak Kreatif Indonesia versi Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia yang dipimpin Kak Seto. Faiz juga mendapat PKS Award Kategori Anak Indonesia Berprestasi bidang Seni Budaya (2007). Bukunya yang terbit kemudian
Nadya; Kisah dari Negeri yang Menggigil (2007) diberi pengantar oleh Sapardi Djoko Damono. Dalam pengantar tersebut Sapardi menulis, “Faiz sadar bahwa menulis puisi bukanlah sekedar permainan lagi. Berpuisi, baginya, adalah semacam tugas yang telah diberikan oleh orang di sekitarnya.”
Tahun ini Faiz mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Departemen Pariwisata dan Budaya (2009). Kini selain aktif sebagai penulis, Faiz adalah penggiat Forum Lingkar Pena dan Rumah Cahaya (baCA dan HAsilkan karYA) yang bergerak di bidang sosial budaya untuk pemasyarakatan baca tulis bagi masyarakat, khususnya kalangan dhuafa. Siswa SMP Pribadi Depok ini juga kerap keliling Indonesia, menyemangati teman-teman kecilnya untuk terus membaca dan menulis.
“Aku menulis karena empat hal,”ujar Faiz. Pertama, untuk mengucapkan diriku. Kedua, untuk menyampaikan gagasan dan perasaanku. Ketiga: untuk menolong orang lain, dan keempat ---ini tetap harus kusebut—yaitu untuk menyebarkan cinta yang tak pernah selesai….”
Keterangan Foto:
Faiz kecil (2004) dan Faiz saat sedang baca doa di depan Presiden SBY (Hari Anak Nasional 2007). Paling atas foto Faiz Mei 2009 :)
