
Pentas Amal dan Peringatan Hari Pahlawan: TANAH PEREMPUAN Ketika Bencana Menyatukan dan Membangkitkan Kita. Gedung Kesenian Jakarta, 8 November 2009
September tahun lalu, saya, Mas Edi Sutarto dan beberapa rekan dosen mendirikan Bengkel Sastra UNJ; sebuah bengkel kreasi seni, sastra, budaya dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, UNJ yang diharapkan kelak bisa menjadi salah satu kantong budaya di Jakarta. Tentu saja sebagaimana kegiatan para mahasiswa pada umumnya, Bengkel pun miskin dana. Kegiatan bisa terus bergerak karena ada tekad dan usaha yg kuat dari para aktivisnya.
Salah satu kegiatan besar Bengkel Sastra tahun ini adalah pementasan naskah Tanah Perempuan yg diangkat dari naskah drama yg saya tulis. Usulan mementaskan naskah ini justru datang dari para mahasiswa anggota Bengkel Sastra. “Tanah Perempuan” pun disiapkan sejak tahun lalu dan direncanakan dipentaskan di lima kota: Jakarta, Banten, Yogyakarta, Surabaya dan Banda Aceh. 17 Juli lalu, naskah ini sudah dipentaskan di CCL, Bandung.
Ceritanya tentang kehidupan seorang perempuan Aceh yang selalu dirundung luka, puncaknya saat terjadi gempa yg kemudian diikuti oleh tsunami yang makin memisahkan ia dan keluarganya. Di tengah prahara dan putus asa itulah ia bertemu dgn para perempuan pahlawan masa lalu seperti Laksamana Keumalahayati, Sultanah Safiatudin Syah, Cut Nyak Dhien, Pocut Meurah Intan, Cut Meutia, dan Pocut Baren. Pada akhirnya segala luka dan bencana berhasil menguatkan karakternya, dan menyatukan serta membangkitkan kembali masyarakatnya.
Pementasan yang disutradarai Ferdi Firdaus dan didukung 70 mahasiswa UNJ ini akan digelar 8 November 2009, pkl 19.30, di Gedung Kesenian Jakarta. Para pemain: Hayati, Sheikhudin, Ahmad Ibo, Hisnudita Hagiworo, Andi Dwijayanto, Hawatip, dll. Pimpro: Intani Cahya. Manager Panggung: Dwi Suprabowo, Musik: Tabusek con Ensemble. Tata Gerak: Gunawan.
Sebagai pentas amal, “Tanah Perempuan” didukung penampilan spesial Wakil Walikota Banda Aceh: Illiza Sa'dudin sebagai Sultanah Safiatudin dan sastrawan Aceh; D. Kemalawati sebagai Laksamana Kemalahayati, yang secara sukarela membiayai dana mereka sendiri ke Jakarta . Habiburrahman el Shirazy dan Oki Setiana Dewi (KCB) juga dengan suka rela bersedia tampil sebagai bintang tamu.
Satu hal lagi yang ingin saya bagi; menyentuh sekali hari-hari latihan bersama para mahasiswa. Mereka begitu semangat, tanpa mengeluh, terus berlatih sering hingga malam, meski kerap tanpa konsumsi dan harus mengeluarkan transport dari kocek sendiri. Apalagi hingga sebulan menjelang pementasan, belum ada satu sponsor pendukung pun.
"Semangat, Bunda!" kata mereka malah menguatkan saya, selalu. (Ini membuat saya semakin terharu…).
“Jihad nih,” kata yang lain mengomentari kegiatan kami yang “kembang kempis” tapi tak sudi menyerah pada keadaan.
Rencananya setelah menutupi biaya produksi, seluruh hasil pertunjukan akan disumbangkan bagi korban bencana gempa. Sedangkan pementasan selanjutnya--bila ada dana, insya Allah--- akan digelar 19-20 Desember di Banda Aceh, dalam rangka memperingati Hari HAM Internasional, Hari Ibu dan Peringatan 5 Tahun Bencana Tsunami.
Anda bisa menyumbang, menunjukkan empati terhadap musibah sambil mengapresiasi pagelaran seni anak muda kita. Untuk pemesanan tiket bisa menghubungi: Ana (021 92799457), Evi (0812 1056 956). Bila ada yang ingin menyumbang dana untuk pementasan amal ini bisa melalui Rek BCA Cabang Depok 4212204394 atas nama Helvy Tiana Rosa.
Tetap semangat!