
Apa yang ada di pikiran Anda saat mendengar kata plagiator? Menyedihkan atau memuakkan?
Saya termasuk penulis yang beberapa kali mengalami kejadian ini. Tentu bukan saya yang memplagiat, tetapi karya saya diplagiat! Selain itu, pernah juga karya saya terbit tanpa saya ketahui, tanpa saya pernah menyetor naskah ke penerbit tersebut. Untunglah nama saya masih tercantum sebagai penulisnya.
Nah, kemarin saya mendapat informasi dari salah satu penerbit kepercayaan saya: Syaamil Cipta Media di Bandung. Novel Akira yang saya tulis bersambung di majalah Ishlah tahun 1993-1994 dan diterbitkan Syaamil, tahun 2000, diplagiat! Kali ini yang memplagiatnya seorang lelaki bernama A. Hidayat. Semua jalan cerita dan kalimat-kalimat dalam buku Akira persis dengan buku Fajar Menyingsing di Arkansas (Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan 2003). Bedanya hanya nama tokoh dan latarnya. Dialog-dialog yang ada juga sama!
Yang menyebalkan, Fajar Menyingsing di Arkansas itu menjadi Juara I Lomba Nasional Penulisan Buku Cerita Keagamaan yang diadakan Depag, tahun 2003 dengan Dewan Juri: Abdul Hadi WM, La Rose, Upi Tuti Sundari, Titi Said, Yudi Pramoko, Abdullah Surakarta dan sejumlah nama lainnya. Saat buku ini terbit, aneh tak sedikit pun riwayat pengarang tercantum dalam buku. Sampai saat ini siapa A. Hidayat itu sedang ditelusuri Syaamil melalui Depag.
Hmmmmm. Apa yang bisa saya lakukan? Ada saran? Menuntut? Saya sedang memikirkan hal tersebut dengan serius.
Kembali pada soal plagiat, saya pun menemukan beberapa cerpen saya yang dimuat di Annida dan Inthilaq tahun 1992-1996 terbit dalam bentuk buku di Malaysia tahun 1997. Dalam buku yang diterbitkan Ummah Media tersebut, tercantum Ahmad Faris Muda, MA sebagai pengarang (lengkap dengan fotonya di sampul belakang buku). Judul buku: Spasiba Brat Komarovich--pun telak mengambil dari cerpen saya. Semua cerpen yang diplagiat dan diterbitkan tersebut, bahkan belum pernah terbit dalam bentuk buku di Indonesia saat itu!
Beberapa teman sastrawan di Malaysia mengatakan ada bebeapa buku sejenis yang mereka curigai merupakan plagiat dari karya saya. Tapi sekarang sudah agak sukar mencarinya. Pertama, karena buku-buku itu terbit tahun 1997-an dan kedua. karena penerbit yang banyak menerbitkannya--Ummah Media--tiba-tiba menghilang.
Tahun 1999 saat saya, Taufiq Ismail dan sastrawan negara Malaysia A. Samad Said bertemu di Johor Bahru, Malaysia, kami melaporkan hal tersebut ke GAPENA (Gabungan Penulis Nasonal Malaysia) dan mencoba menyelusuri penulis dan penerbitnya. Kami ketahui kemudian bahwa Ahmad Faris Muda telah bergelar doktor dan mengajar di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Yang saya inginkan dari Ahmad Faris Muda dan Ummah Media adalah permintaan maaf di lima koran nasional terkemuka di Malaysia dan Indonesia disertai pernyataan bahwa buku yang ia tulis merupakan jiplakan dari karya saya. Selayaknya memang mereka harus mengganti kerugian material yang saya alami. Namun jangankan hal tersebut, sampai sekarang permohonan maaf dan pengakuan yang saya minta belum direalisasikan. Dan apa daya saya? Menyewa pengacara di Malaysia untuk menyeret mereka ke pengadilan? Darimana uangnya?
Kasus lain pada tahun 1996, buku saya Mc Alliester diterbitkan oleh Penerbit Moslem Press, London. Saya diberi fotokopi buku tersebut tahun 1998 dari seorang teman yang baru pulang dari Ingggris. Dalam buku itu dikatakan bahwa penulisnya adalah pengarang muda berbakat bernama Al Hamasah. Memang waktu menulis "Mc Alliester" secara bersambung di majalah Inthilaq, saya memakai samaran" Al Hamasah". Sayangnya dalam buku yang terbit tanpa pernah menghubungi saya ini, Al Hamasah dikira pengarang dari Timur Tengah! Bahkan ternyata buku berbahasa Inggris itu merupakan terjemahan dari buku berbahasa Arab yang terbit di Saudi Arabia! Bingung kan? Jangankan menagih royalti, jejak penerbitnya pun sekarang tak terendus.
Tarik napas panjang-panjang, berserah diri pada Allah: bismillah dan teruslah berkarya. Itu yang bisa saya lakukan sekarang. Ada yang punya pendapat lain?
(Helvy Tiana Rosa)
  | Assalamualaikum mBak Helvy :)
1. Karya mBak dijiplak or dibajak sebenrnya itu bukti konkret bahwa karya mBak memang bagus, sehingga sampai laayak untuk dijiplak...di poin ini berarti ada yg harus disyukuri, i think :)
2. Hukum harus ditegakkan.....Whatever the result...kalah or menang it doesn't matter anymore....Jadi saran konkret --> Segera Tuntut Si Penerbit dan Penjiplak, seret mereka ke Pengadilan...kalo perlu bukan atas nama mBak Helvy Pribadi tapi didukung oleh Aliansi Pengarang Novel Indonesia (kalo ada)
3. mBak Helvy coba membuat sebuah Surat terbuka kepada Media2 (makin banyak makin baik) tentang Fenomena Penjiplakan yg saya sangat yakin pasti tak hanya terjadi pada mBak Helvy seorang.....
4. Mungkin energi, waktu dan konsentrasi mBak Helvy akan sedikit terkuras untuk kasus ini, but bukankah kasus ini juga bisa ditulis sebagai tulisan yg berbobot (terserah mau dalam bentuk essai, cerpen, novel etc)
5. mBak Helvy pasti sadar benar bahwa ini riak gelombang menuju kegemilangan...ibarat naik pohon cemara, semakin tinggi karir kita semakin kencang anginnya.....mungkin juga ini cara Allah untuk menjaga mBak Helvy untuk tetap 'stay on track' dalam kesahajaan...jauh dari takabur dan kesombongan...
Semoga sharing ini bermanfaat :) Salam buat keluarga :)
Wassalamualaikum wr wb |
 | 'Alaikum salam. Thx banget ya, Wan. Saran-saranmu sangat berarti. semoga secara maksimal bisa dilaksanakan. Sukses juga buat kamu ya ;)) |
 | Sama2 mBak :) Insya Allah aku akan bantu sebisa, semampu dan sesempatku... don't hesitate to contact...
(kangen ama Faiz :P) |
 | Assalaamu'alaikum Wr Wb
Meskipun Mbak Helvy bukan lagi Ketua Umum FLP, selayaknya FLP membantu dan membela Mbak Helvy dalam kasus ini. Semoga FLP bisa melaksanakannya ya, apalagi sudah jelas bahwa mulai tahun ini FLP juga punya divisi advokasi. Amiin.
Wassalam |
 | Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh Berat, sakit, dan apapun yang mbak rasakan, Allah membalas dengan pahala mbak. Bukankan kebaikan yang diikuti oleh orang lain si pelopornya akan terus mengalirkan pahala? asal mbak ikhlas. Maaf hanya memandang dari sisi baiknya saja. Smoga Allah mengantikan kerugian ini dengan balasan kebaikan di dunia dengan memudahkan mbak menulis dan akhirat dengan surga yang dijanjikan Allah.......
Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh |
 | 'Alaikum salam. Jazaakumullah Waluyo. Ya, saat memandang "sisi baik" yang kamu bilang, berita yang saya dengar, menteri agama bahkan mengajak sang plagiat: A. Hidayat itu pergi umroh gratis karena ia sangat terkesan dengan "karya A. Hidayat" yang menjadi juara I nasional itu. Hiks. Gimana perasaan A. Hidayat di depan ka'bah saat itu ya? |
 | Apakah Mbak Helvy sudah menyurati kepada Sdr.A.Hidayat dan penerbit yang menerbitkan buku tersebut ?
Sebaiknya dilakukan pendekatan dahulu kepada mereka tersebut, namun bila mereka tidak mau mengakui, bahwa itu sebenarnya adalah karya Mbak, maka saya sarankan Mbak mengambil "Sikap". Yang saya maksud sikap disini bukanlah untuk menjatuhkan "sang plagiat tersebut", namun lebih kepada makna memberinya suatu pelajaran tentang "kejujuran", dengan tujuan agar dia mengerti dan tidak mengulangi perbuatannya. |
 | helvytr wrote on Mar 30, '05, edited on Mar 30, '05 Penerbit sih sudah mengurus. Sekarang doinya yang menghilang dan tak mau ambil pusing ;(. Aku belum melakukan apa-apa karena sementara ini dah diurus Syaamil, penerbitku. Kata Titie Said, kalau terbukti plagiat, akan dibatalkan kemenangannya, mas. |
 | Mbak Setuju sama pendapat Iwan. Kayaknya, meskipun menguras energi dan waktu, plagiarisme harus dikasih zero tolerance. Harus ada yang memulai itu. Kalau nggak, orang nggak akan menghargai proses dan nggak menghargai belajar. Saya yang mbaca aja gemes, apalagi Mbak Helvy yang ngalamin ya.. |
 | "Fajar Menyingsing di Arkansas" itu sampulnya juga aneh...kok yang ditampilkan patung Liberty? Nggak nyambung pisan :). Saya jadi penasaran apakah isinya bercerita banyak tentang Arkansas? Kemungkinan si doi pernah tinggal di AR. Coba saya cari tahu yah...sejauh ini orang Indonesia yang tinggal di AR tidak terlalu banyak. Mungkin ada yang kenal dia. Gemes euy!
Mamiek, AR |
 | He he he..., nggak nyambung ya mbak ;). Memang gemesin euy! Btw makasih keinginan cari tahunya. Sekarang masih diusut nih sama Penerbit Syaamil. Jazaakillah ya Mbak. salam buat teman-teman nun jauh di sana. Luv
|
 | rasendria wrote on Apr 12, '07, edited on Apr 12, '07 saya setuju dengan Pak Iwan..salahsatu yang patut disyukuri, karya2 HTR berbobot dan bagus bgt sampe orang2 ga bertanggung jawab itu mem plagiat.. tapi tetep hrs ditelusuri para plagiator itu.mba yang berkarya, ehh dia yg dpt penghargaan. ini GAK ADILLL... so, tetep semangat berkarya ya Bunda faiz dan Nadya... Luv u coz Allah :) |
 | mbak helvy.. ini post lama yaaa.. gimana kabarnya sekarang? wah urusan hak cipta ini memang rumit ya mbak.. bagaimana cara nge-trace semua karya mbak apa diplagiat apa enggak? semoga segera menemukan solusi.. |
 | wah mba Helvy ini masalah originality, udah menyangkut lintas dunia, sepatutnya diangkatkan ke masalah nasional kita, bidang pendidikan misalnya.
Memang suatu pekerjaan yg tak bisa dibiarkan begitu saja, kan ini sama dengan pencurian, apalagi yang mencuri kaum intelek yang tahu dengan aturan.
Ya ini menunjukan sistem kita yg lemah ya, kita telah dikecolongan banyak hal, bukan hanya karya sastera tapi karya nenek moyang yg telah turun temurun juga, misalkan tempe dipatenkan sama org jepang,. terus rendang dari padang, dipatenkan sama org malaysia.
Haki kita tak berfungsi banyak ya mba?
ya indonesia sibuk korupsi aja sih ya, sehingga duit yg sebenarnya bisa digunakan untuk minta paten internasional,. atau urusan beginian tak dihiraukan,..
pusing emang ya mba,.. negri kita,.. Hanya sama Allah kita mengadu semuanya. |
 | Wah, baru sekali ini saya ketemu penulis yang begitu banyak karyanya dijiplak, sampai ke Malaysia pula. Salut. Saya setuju penjiplakan adalah masalah yang luar biasa serius. Kalau pengacara terlalu berat, diramein lewat media aja. Kaya Peter Pan, tuh. Tapi, gimana ya. Orang sinetron aja yang udah jelas-jelas nyontek dan diprotes berkali-kali juga masih aja berkeliaran di televisi... |
 | wah mba Helvy ini masalah originality, udah menyangkut lintas dunia, sepatutnya diangkatkan ke masalah nasional kita, bidang pendidikan misalnya.
Memang suatu pekerjaan yg tak bisa dibiarkan begitu saja, kan ini sama dengan pencurian, apalagi yang mencuri kaum intelek yang tahu dengan aturan.
Ya ini menunjukan sistem kita yg lemah ya, kita telah dikecolongan banyak hal, bukan hanya karya sastera tapi karya nenek moyang yg telah turun temurun juga, misalkan tempe dipatenkan sama org jepang,. terus rendang dari padang, dipatenkan sama org malaysia.
Haki kita tak berfungsi banyak ya mba?
ya indonesia sibuk korupsi aja sih ya, sehingga duit yg sebenarnya bisa digunakan untuk minta paten internasional,. atau urusan beginian tak dihiraukan,..
pusing emang ya mba,.. negri kita,.. Hanya sama Allah kita mengadu semuany  Iya menyedihkan sekali yaaa... Haki kita memang seolah tak berfungsi banyak...hiks... Info tentang Haki juga ggak tersosialisasi cukup, kurang bisa diakses masyarakat...
Semoga esok lebih cerah...
|
 | Waduh, parah banget ya Mbak? Itu baru yang kita tahu. Mungkin saja, ada lagi karya penulis yang diplagiat tanpa penulisnya tahu. |
 | Begitulah Ren, sisi makan hati kita sebagai penulis ;( Tapi teteup semangat dan yang kayak ini nggak akan deh pernah bikin kita kapok sebagai penulis ya ;D
Sukses selalu!
|
 | yang penting, kita yang sudah sadar hari ini yang lagi mencoba dan merintis menjadi penulis. jangan hanya karna ini cepat tenar instan trus kita mengorbankan saudara/i kita yang telah berusaha dari nol. selain itu, menfoto kopi buku islam yang asli juga merupakan cara mematikan finansial umat islam. dalam artian, umat islam 'membunuh' umat islam sendiri secara finansial. |
 | assalamualaikum, bunda saya turut berdukja, karen asaya termasuk pengagum bunda, langkag2 kecil bunda untuk mengajar di bahasa indonesia selalu saya awasi, tapi tak berani tuk bertegur sapa.af1 wassalamualaikum |
 | Sedih yah Mbak...kalau melihat hasil kerja keras kita di jiplak begitu saja, dan orang yang menjiplak malah yang mendapat "pengakuan".......tapi yah memang masih banyak orang yang lebih suka mengambil jalan pintas Mbak.......Sabar yah Mbak |
 | Ironis sekali jika seorang Doktor di Universitas kenamaan Malaysia bisa menjadi maling seperti itu. Semoga saja Cut Kak menemukan kekuatan untuk menyeret manusia seperti itu di depan hukum, sebab tidak saja ini merugikan Cut Kak, tetapi juga ini merupakan bentuk pengangkangan pada intelektualitas. Saya sendiri sampai meragukan sosok tersebut membuat disertasi yang orisinil karyanya sendiri.
Sayangnya, di sini memang Cut Kak sudah berjuang ekstra untuk menemukan sosok itu, tapi belum berhasilnya menyeret manusia itu, duh......saya geram dengan manusia plagiator itu. Semoga saja Cut Kak menemukan cara terbaik dalam mengambil tindakan untuk mereka-mereka itu. Agar plagiatisme itu tidak ada lagi, atau paling tidak terminimalisir |
 | Turut prihatin atas pembajakan2 sadis ini Mbak Helvy.... Mungkin sudah saatnya juga kalau dibentuk LBH anti pembajakan ya, terutama yang probono dengan mengandalkan para pengacara penulis yang ada. Paling tidak untuk menciptakan gerakan yang lebih pro penulis dan hak cipta.... salam, Anwar. |
 | Tarik napas panjang-panjang, berserah diri pada Allah: bismillah dan teruslah berkarya. Itu yang bisa saya lakukan sekarang. Ada yang punya pendapat lain?
(Helvy Tiana Rosa)
"Salut Mbak Helvy atas jiwa besarnya. Teruslah berkarya untuk ummat" |
 | Aku publish di MP ku ya mbak.... |
 | tulis surat ini ke surat pembaca di koran-koran... dan coba juga di http://www.mediakonsumen.com/ supaya makin luas lagi yang membacanya.. bukan hanya para MPers |
 | Mbak, permisi numpang nge-link ya... |
 | kesha wrote on Nov 17, '07 Mbak, turut prihatin yah..
aku link ke MP ku.. |
 | Apakah tak ada cara lain yang orisinil untuk unjuk diri? Turut prihatin |
 | duuuh ikut prihatin yaaak mbak yg sabar... |
 | Apa pemerintah Indonesia ndak bisa bantu to mbak? |
 | wah..mbak..., saya turut prihatin banget jadinya...!! masa lebih dari satu karya mbak yang diplagiat..!! yang pasti karya mbak termasuk bagus..!! sayang sekali kalo tidak bisa di usut tuntas ..!! btw para plagiat itu memang enggak tau malu..menipu banyak orang ternyata termasuk diri mereka sendiri!! |
 | f4jar wrote on Nov 17, '07 mbak aku link yooo,.,..,:) |
 |
Mbak, imho mungkin setiap sesudah membuat karya (tulisan), si karya di daftarkan ke HAKI, agak mengeluarkan biaya dan waktu memang tapi minimal saat urusan hukum, posisi kita kuat...
|
 | hmmm ga kapok juga ya negara tetangga itu. apa sudah menyebarke seluruh lapisan profesi kegiatan plagiarisme ya? atau mungkin sudah masuk kurikulum dalam pendidikan mereka? |
 | ciput wrote on Nov 17, '07 Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................ ini mah kebangetan Mba! Saya ikut tersinggung neh! Ga terima saya, biar kata belon pernah berhasil nerbitin buku tulisan sendiri juga, tapi teuteup ga terima ah!
*mencoba menenangkan emosi yg meletup2 :p* |
 | tanyakan pada diri kita, untuk apa kita menggerakkan pena? --seorang plagiator yang tengah menghitung royalti bukunya tersenyum, sambil menunjukkan sejumlah uang yang baru diterimanya-- |
 | ihhh gemes deh masa di luar negri aja masi banyak yg plagiarism sih.... sabar ya mbak.... selama masih berkarya, berkaryalah terus,,, jangan terpengaruh meski udah dijiplakin sana sini.... semoga sukses selalu ya mbak.... cheers |
 | Sekiranya para juri tersebut sempat membaca karya Mba Helvy yg terbit tiga tahun sebelum lomba yang diikuiti A. Hidayat itu, pasti ke-gap langsung deh kalau dia plagiator. Seru kaliya... |
 | kenapa tidak di angkat ke media massa?? saya rasa banyak org2 media di MP atau blog yang bs bantu?? kalau saya bantu sebar-sebar cerita aja ya mbak ke yg laen... |
 | fietz wrote on Nov 19, '07 mbak, salam kenal ya...dari dulu aku sering baca novel n cerpen mbak ;)) iiiiiiiiiiiiiih aku sebel banget sama A. Hidayat itu !! apa gak keketuk ya hati nuraninya umrah hasil curang!! ck..ck..kalo yang ngaku islam & berpendidikan aja begitu..gmana nasib bangsa ini ya..
|
 | Prihatin berat kalau kasus penjiplakan ini bisa menimpa pengarang sepopuler Mbak Helvy. Gimana nasib pengarang2 yg nggak populer ya? Saya setuju pendapat sebagian teman2 di sini, mungkin kalo ditempuh lewat jalur hukum akan makan banyak waktu dan biaya, lebih baik sebar lewat media dan dari mulut ke mulut (seperti di MP ini). Lama-lama mereka yg ketauan plagiat itu juga bakal malu boroknya ketauan satu dunia (mungkin selama ini mereka belum malu karena kalangan yg tau masih terbatas).
BTW, numpang tanya Mbak, yg spasiba brat komarovich itu karya Mbak dari zaman kuliah Penpop sama Pak Ismail Marahimin itu ya? |
 | ih mbak sing sabar yach... biarin aja dia yang ngejiplak jadi doktor... toh duitnya bakalan dikutuk .... dan duitnya yang dipakai adalah untuk ngasih makan anak istri... waduh mampus aja semuanya tuh... |
 | adite wrote on Jan 5, '08 mbak aku juga penggemar karya2 mbak... usut sampe abis mbak |
 | herik wrote on Mar 30, '08 kalo Mc Alliester difilm'kan kayaknya seru tuh.. bisa best seller ngalahin ayat2 cinta :D. Hmm saya bacanya waktu sd apa smp ya.. |
 | Al-Haq pasti akan Kekal... Al-Haq kan terus Abadi... Al-Haq kan Selalu perkasa... Al-Haq akan selalu menggulingkan yang Bathil... Terus berkarya Mbak.... Pegang pedoman ampuh ini aja "Innallaha Ma'ana" Wa Innallaha Ma'assobirin.
|
 | Sabar ya mbak, duit yang mereka dapat gak akan halal dunia akhirat, smoga cepet bisa diselesaikan. PS. SAya termasuk fans mbak, kutunggu karya mbak selanjutx |
| |