
Sudah sering ada yang menelpon saya
meminta Faiz mengisi acara. Tapi siang ini saya terkejut dan gundah, ketika
seorang perempuan menelpon saya begini:
“Selamat siang. Harga Faiz berapa
untuk satu jam!?”
Saya terdiam, seperti tak percaya
apa yang saya dengar.
“Harga Faiz berapa? Kami mau minta
dia isi acara. Sebutkan saja!”
Saya tersentak. Sedih. Seseorang
bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan
uang? Tidak ada sedikit saja prolog?
“Maaf ya,Mbak…kami tak pernah
menetapkan harga bagi anak kami. Ia terlalu berharga,” kata saya.
“Ya biasanya kalau kami kontak artis
cilik kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!”
“Tapi Faiz bukan artis kok, Mbak…,”
kata saya.
“Jadi harga Faiz berapa?”
“Kalau memang ingin mengundang Faiz untuk
acara profit, Mbak saja yang beritahu berapa alokasi dananya. Nanti kami
pertimbangkan,” ujar saya lagi. “Tetapi tolong jelaskan dulu acaranya untuk
apa, audiensnya bagaimana, kapan, siapa yang mengadakan, dsbnya….”
Memang kami tidak pernah menetapkan
harga, jika Faiz diundang baca puisi atau acara lainnya. Yang kami inginkan,
acara itu nyaman dan cocok untuk Faiz. Yang penting Faiz suka dan bisa mendapat
pengalaman. Faiz-lah yang menentukan ia mau atau tidak datang ke acara
tersebut. Bukan kami. Alhamdulillah bila diberi honor yang pantas, Faiz punya
banyak tempat saluran yaitu teman-teman kecilnya yang miskin, yang keliaran di
jalan, di panti, di Rumah Cahaya, di sekolahnya, dan sebagainya. Memang
Faiz sedang giat menabung untuk membuka
usaha yang akan melibatkan teman-teman kecilnya kelak.
“Kenapa, Nda?
Telpon dari siapa?” Tanya Faiz, membuyarkan lamunan saya.
“Ada
yang mau mengundang Faiz isi acara.”
“Lho, kok
wajah Bunda malah sedih?”
Saya mencium
pipi Faiz. “Tadi Bunda sedikit terkejut saja,” jawab saya.
Faiz menuju komputer dan mulai menekan tuts
permainannya. “Nda, acaranya untuk siapa? Nah kalau acara itu untuk orang
miskin, kalau bisa aku turut menyumbang saja. Tidak perlu bayar lho!” suara
Faiz. Kali ini sangat menyejukkan.
“Acaranya belum pasti. Nanti dia
akan menghubungi Bunda lagi.
“Oke…,” kata Faiz sambil
memperhatikan komputernya lagi. “Kalau yang mengadakan orang kaya atau
perusahaan besar, ingatkan ya Bunda….aku punya teman-teman kecil yang juga
perlu perhatian mereka!”
Saya tersenyum, memeluk Faiz gemas. Tiba-tiba
di mata saya muncul wajah para artis cilik Indonesia yang penuh talenta dan lucu-lucu
itu. Ah, apakah orangtua mereka ditelpon dengan cara yang sama pula? Dengan kalimat
pembuka: “Berapa harganya satu jam?”
Siapa yang tak senang bila anaknya
punya talenta dan bisa mendapatkan uang sendiri? Tapi diundang dengan kalimat
pembuka: Berapa harganya satu jam? Kami
mau pakai dia!?
Sesuatu menohok nurani saya. Perih.
(Helvy Tiana Rosa)
  | Astaghfirullah.... kok nggak ada basa-basinya yah orang itu.... segitunya loh.... |
 | Mungkin karena punya banyak uang, dek. Yang mengundang salah satu bank terkemuka :(
|
 | betul mbak. meski perlu, uang bukanlah segalanya. apalagi caranya seperti itu. :) |
 | 
Sudah sering ada yang menelpon saya meminta Faiz mengisi acara. Tapi siang ini saya terkejut dan gundah, ketika seorang perempuan menelpon saya begini: “Selamat siang. Harga Faiz berapa untuk satu jam!?” Saya terdiam, seperti tak percaya apa yang saya dengar. “Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!” Saya tersentak. Sedih. Seseorang bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan uang? Tidak ada sedikit saja prolog? “Maaf ya,Mbak…kami tak pernah menetapkan harga bagi anak kami. Ia terlalu berharga,” kata saya. “Ya biasanya kalau kami kontak artis cilik kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!” “Tapi Faiz bukan artis kok, Mbak…,” kata saya. “Jadi harga Faiz berapa?” “Kalau memang ingin mengundang Faiz untuk acara profit, Mbak saja yang beritahu berapa alokasi dananya. Nanti kami pertimbangkan,” ujar saya lagi. “Tetapi tolong jelaskan dulu acaranya untuk apa, audiensnya bagaimana, kapan, siapa yang mengadakan, dsbnya….” Memang kami tidak pernah menetapkan harga, jika Faiz diundang baca puisi atau acara lainnya. Yang kami inginkan, acara itu nyaman dan cocok untuk Faiz. Yang penting Faiz suka dan bisa mendapat pengalaman. Faiz-lah yang menentukan ia mau atau tidak datang ke acara tersebut. Bukan kami. Alhamdulillah bila diberi honor yang pantas, Faiz punya banyak tempat saluran yaitu teman-teman kecilnya yang miskin, yang keliaran di jalan, di panti, di Rumah Cahaya, di sekolahnya, dan sebagainya. Memang Faiz sedang giat menabung untuk membuka usaha yang akan melibatkan teman-teman kecilnya kelak. “Kenapa, Nda? Telpon dari siapa?” Tanya Faiz, membuyarkan lamunan saya. “Ada yang mau mengundang Faiz isi acara.” “Lho, kok wajah Bunda malah sedih?” Saya mencium pipi Faiz. “Tadi Bunda sedikit terkejut saja,” jawab saya. Faiz menuju komputer dan mulai menekan tuts permainannya. “Nda, acaranya untuk siapa? Nah kalau acara itu untuk orang miskin, kalau bisa aku turut menyumbang saja. Tidak perlu bayar lho!” suara Faiz. Kali ini sangat menyejukkan. “Acaranya belum pasti. Nanti dia akan menghubungi Bunda lagi. “Oke…,” kata Faiz sambil memperhatikan komputernya lagi. “Kalau yang mengadakan orang kaya atau perusahaan besar, ingatkan ya Bunda….aku punya teman-teman kecil yang juga perlu perhatian mereka!” Saya tersenyum, memeluk Faiz gemas. Tiba-tiba di mata saya muncul wajah para artis cilik Indonesia yang penuh talenta dan lucu-lucu itu. Ah, apakah orangtua mereka ditelpon dengan cara yang sama pula? Dengan kalimat pembuka: “Berapa harganya satu jam?” Siapa yang tak senang bila anaknya punya talenta dan bisa mendapatkan uang sendiri? Tapi diundang dengan kalimat pembuka: Berapa harganya satu jam? Kami mau pakai dia!? Sesuatu menohok nurani saya. Perih.
(Helvy Tiana Rosa)  bagaimana kalau faiz saya undang ke bontang u "acara" saya mbak helvy??? |
Comment deleted at the request of the author.
 | hmmm,mbak helvy punya stok sabar yang banyak pastinya :D karena kalau saya yang menerima telpon seperti itu, saya pasti akan langsung menolak... udah sebel duluan ...:b
gak simpatik sekalih...:( |
 | masyaAllah, gak sopan banget ya EO-nya jangan2 gak pernah diajarin sopan santun bertelepon ya ? heran deh, masih ada yg mengira semua hal bisa dihargai dengan uang. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Berulang-ulang saya ingin mencopy hanya kalimat ini : “Ya biasanya kalau kami kontak artis cilik kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!” --> Entah kenapa dicopy semua sama MPnya, bolak balik saya hapus jadinya, maaf ya Bunda. Saya gemas dengan kalimat satir itu soalnya!
Aduuuuuuuuuh Bunda, itu orang asli keterlaluan, tapi dari sana juga terungkap bagaimana relasi segitiga para artis cilik, bunda mereka dan perusahaan yang membutuhkan, benar-benar bahasa KAPITALIS, keterlaluan!!!
Terima kasih sudah sharing ini, sedih saya atas 1 sisi lain eksploitasi anak-anak :-(
*Maaf Bunda, jadi panas saya, asli gak ada adabnya sama sekali!*
|
 | Betul, Mbak, Faiz sangat-sangat berharga sehingga gak akan bisa dihargai sebesar apapun. Jadi kangen ama Faiz :-) |
 | Berapa harganya satu jam? Kami mau pakai dia!?
Bukankah itu juga kalimat yg digunakan untuk memanggil (maaf sekali) pelacur?
Tampaknya Dik Faiz telah menjadi korban keterlanjuran, bukankah sekarang sudah terlanjur ada Da'i yg pasang tarif?
Tapi paling tidak Dik Faiz bisa memperkenalkan kepada penelpon tadi bahwa sejatinya ada dunia yg sangat berbeda dengan yg dia kenal selama ini dimana ketulusan masih mendapat tempat. |
 | Alhamdulillah bunda diberi kesabaran saat mendengar hal tsb "Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!" dan semoga selalu diberi kesabaran oleh-Nya...amin |
 | Ck..ck..ck.. Mbak Helvy sabar banget ya.. Saya harus banyak belajar bersabar, karena Alloh paling sering menguji manusia dengan Ujian Kesabaran. Insyaallah jadi ladang pahala. |
 | Sabar ya mba, Ini salah satu cobaan, ujian dalam karir Faiz. Kalau kita bisa menguasai diri, saya yakin hikmahnya akan besar, bagi mba sekeluarga, teman-teman, seperti saya juga, untuk lebih mempersiapkan diri lahir batin dalam berinteraksi dengan dunia, dengan habitat yang sangat berbeda-beda... |
 | uyuni wrote on Jun 1, '05 wadoh, gak pake telephony skill yaks... duh, Bank mana tuh Bun..?? *gemez mode on*  astaghfirullah...hadoeeh.. sabarnya mba' helvykoe tayank,, saluuut... iyach tuch yang nelpon g' pernah belajar telephony skills kali yach.. dek faiz tuch g' sama dengan artis & g' bisa diukur dengan harga karena ia begitu sangat berharga... semoga Allah selalu menjagamu ya dek.. salam sayang |
 | Faiz Tidak dapat dibeli Meski dengan emas Sebesar puncak jaya Sekalipun.. |
 | Aduuuuuuuuuh Bunda, itu orang asli keterlaluan, tapi dari sana juga terungkap bagaimana relasi segitiga para artis cilik, bunda mereka dan perusahaan yang membutuhkan, benar-benar bahasa KAPITALIS, keterlaluan!!!
Terima kasih sudah sharing ini, sedih saya atas 1 sisi lain eksploitasi anak-anak :-(  Soal eksploitasi anak...serem...kalau kami ikuti nyari uang, Faiz juga dah jadi korban, say :). Apalagi waktu dia baru menang lomba nulis surat untuk presiden (2003) yang namanya orang mengundang, bisa seminggu 3 kali! Bayarannya juga menggiurkan.
Alhamdulillah, kami selalu tanya Faiz dulu dan kami prioritaskan acara yang benar-benar baik, bermanfaat, di mana Faiz senang dan juga bisa dapat pengalaman :). Pokoknya jangan sampai dia kecapaian dan bete! :)
|
Comment deleted at the request of the author.
 | Abdurrahman Faiz adalah kado istimewa dari surga untuk Indonesia dan Dunia!!!! |
 | masya Allah, memangnya anak itu dagangan kok ditanyain harganya!!! |
 | Iya nih...kan masih banyak yang bisa didagangin ya, Tia :). faiz aja mau dagang roti :)
|
 | Bila uang yang sudah menjadi parameter segala di kehidupan..... mengingatkan kita untuk jauh melihat ke sanubari dan melihat kehidupan ini dari ketulusan mata hati seorang anak....yang tak ternilai harganya
hani |
 | Mbak Helv, aku langsung tanya Tomi itu yang ngundang sapa sih!!! Aku jadi pengen langsung ngomong ama om ku yang udah pensiun dari bank itu, tapi seperti yang Mbak Helvy bilang "mungkin bukan banknya, tapi EOnya." Moga2 aja bukan hasil kualat kalo Tomi dulu pernah ngundang tamu buat Kupas Tuntas dengan cara yang ga berkenan heheheheh |
 | helvytr wrote on Jun 2, '05, edited on Jun 2, '05 He he he...Mas Tom memang tipe yang to the point jg ya, Ria! (ketuleran Sumatera-ku kali...dulu nggak begitu. Eh, aku mulai ketuleran Solo-nya dia :))). Lho kok jadi ngomongin daerah ya :)). Tapi EI nya Mas oke bangetlah dibandingkan si EO bank tea :). jauh gitu lho. Ntar kalau Mas sampai begitu...hap! Kite duluan ni yang jabanin negur! Ya nggak? ;p. Moga nggak ada yang pernah komplain di kuptun...hiiiii....;). Btw thx ya...tapi kasian jadi si Om kebawa-bawa ditanyain...jadi nggak enak euy, say! |
 | Hmm ... tanpa basa basi ya Mbak? Duh .. teganya teganya teganya ..... |
 | Mesti belajar tentang EI lagi (baca: ahlak :)) |
 | Ngga Mbak Vy, aku belum nanya ke omku. Soalnya aku mikir apa emang EOnya yang kasar, bukan banknya. Lagian, aku lagi ribet ama urusan kantor jadi belon main ke rumah omku. |
 | Iya nggak usah mbak Ria...;) Ntar biar aku yang cari tahu. Mereka belum menghubungi lagi sih. Thx ya ;)
|
| |