Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 1, '05 3:36 AM
for everyone

Sudah sering ada yang menelpon saya meminta Faiz mengisi acara. Tapi siang ini saya terkejut dan gundah, ketika seorang perempuan menelpon saya begini:

“Selamat siang. Harga Faiz berapa untuk satu jam!?”

Saya terdiam, seperti tak percaya apa yang saya dengar.

“Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!”

Saya tersentak. Sedih. Seseorang bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan uang? Tidak ada sedikit saja prolog?

“Maaf ya,Mbak…kami tak pernah menetapkan harga bagi anak kami. Ia terlalu berharga,” kata saya.

“Ya biasanya kalau kami kontak artis cilik kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!”

“Tapi Faiz bukan artis kok, Mbak…,” kata saya.

“Jadi harga Faiz berapa?”

 “Kalau memang ingin mengundang Faiz untuk acara profit, Mbak saja yang beritahu berapa alokasi dananya. Nanti kami pertimbangkan,” ujar saya lagi. “Tetapi tolong jelaskan dulu acaranya untuk apa, audiensnya bagaimana, kapan, siapa yang mengadakan, dsbnya….”

Memang kami tidak pernah menetapkan harga, jika Faiz diundang baca puisi atau acara lainnya. Yang kami inginkan, acara itu nyaman dan cocok untuk Faiz. Yang penting Faiz suka dan bisa mendapat pengalaman. Faiz-lah yang menentukan ia mau atau tidak datang ke acara tersebut. Bukan kami. Alhamdulillah bila diberi honor yang pantas, Faiz punya banyak tempat saluran yaitu teman-teman kecilnya yang miskin, yang keliaran di jalan, di panti, di Rumah Cahaya, di sekolahnya, dan sebagainya. Memang Faiz  sedang giat menabung untuk membuka usaha yang akan melibatkan teman-teman kecilnya kelak.

“Kenapa, Nda? Telpon dari siapa?” Tanya Faiz, membuyarkan lamunan saya.

Ada yang mau mengundang Faiz isi acara.”

“Lho, kok wajah Bunda malah sedih?”

Saya mencium pipi Faiz. “Tadi Bunda sedikit terkejut saja,” jawab saya.

 Faiz menuju komputer dan mulai menekan tuts permainannya. “Nda, acaranya untuk siapa? Nah kalau acara itu untuk orang miskin, kalau bisa aku turut menyumbang saja. Tidak perlu bayar lho!” suara Faiz. Kali ini sangat menyejukkan.

“Acaranya belum pasti. Nanti dia akan menghubungi Bunda lagi.

“Oke…,” kata Faiz sambil memperhatikan komputernya lagi. “Kalau yang mengadakan orang kaya atau perusahaan besar, ingatkan ya Bunda….aku punya teman-teman kecil yang juga perlu perhatian mereka!”

Saya tersenyum, memeluk Faiz gemas. Tiba-tiba di mata saya muncul wajah para artis cilik Indonesia yang penuh talenta dan lucu-lucu itu. Ah, apakah orangtua mereka ditelpon dengan cara yang sama pula? Dengan kalimat pembuka: “Berapa harganya satu jam?”

Siapa yang tak senang bila anaknya punya talenta dan bisa mendapatkan uang sendiri? Tapi diundang dengan kalimat pembuka: Berapa harganya satu jam? Kami mau pakai dia!?

Sesuatu menohok nurani saya. Perih.

(Helvy Tiana Rosa)



57 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ti2n wrote on Jun 1, '05
Astaghfirullah....
kok nggak ada basa-basinya yah orang itu....
segitunya loh....
helvytr wrote on Jun 1, '05

Mungkin karena punya banyak uang, dek. Yang mengundang salah satu bank terkemuka :(
tianarief wrote on Jun 1, '05
betul mbak. meski perlu, uang bukanlah segalanya. apalagi caranya seperti itu. :)
iniaku wrote on Jun 1, '05
helvytr said
Berapa harganya satu jam? Kami mau pakai dia!?
dijawab gini:
semua uang yg ada didunia inipun tak akan cukup utk membayar Faiz
krn Faiz-lah seluruh harta didunia ini...

hehehehe, tp nanti orangnya kapok kali ya mbak ;)
dedysubandi wrote on Jun 1, '05
helvytr said



Sudah sering ada yang menelpon saya
meminta Faiz mengisi acara. Tapi siang ini saya terkejut dan gundah, ketika
seorang perempuan menelpon saya begini:




“Selamat siang. Harga Faiz berapa
untuk satu jam!?”




Saya terdiam, seperti tak percaya
apa yang saya dengar.




“Harga Faiz berapa? Kami mau minta
dia isi acara. Sebutkan saja!”




Saya tersentak. Sedih. Seseorang
bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan
uang? Tidak ada sedikit saja prolog?




“Maaf ya,Mbak…kami tak pernah
menetapkan harga bagi anak kami. Ia terlalu berharga,” kata saya.




“Ya biasanya kalau kami kontak artis
cilik
kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!”




“Tapi Faiz bukan artis kok, Mbak…,”
kata saya.




“Jadi harga Faiz berapa?”




 “Kalau memang ingin mengundang Faiz untuk
acara profit, Mbak saja yang beritahu berapa alokasi dananya. Nanti kami
pertimbangkan,” ujar saya lagi. “Tetapi tolong jelaskan dulu acaranya untuk
apa, audiensnya bagaimana, kapan, siapa yang mengadakan, dsbnya….”




Memang kami tidak pernah menetapkan
harga, jika Faiz diundang baca puisi atau acara lainnya. Yang kami inginkan,
acara itu nyaman dan cocok untuk Faiz. Yang penting Faiz suka dan bisa mendapat
pengalaman. Faiz-lah yang menentukan ia mau atau tidak datang ke acara
tersebut. Bukan kami. Alhamdulillah bila diberi honor yang pantas, Faiz punya
banyak tempat saluran yaitu teman-teman kecilnya yang miskin, yang keliaran di
jalan, di panti, di Rumah Cahaya, di sekolahnya, dan sebagainya. Memang
Faiz  sedang giat menabung untuk membuka
usaha yang akan melibatkan teman-teman kecilnya kelak.




“Kenapa, Nda?
Telpon dari siapa?” Tanya Faiz, membuyarkan lamunan saya.




Ada
yang mau mengundang Faiz isi acara.”




“Lho, kok
wajah Bunda malah sedih?”




Saya mencium
pipi Faiz. “Tadi Bunda sedikit terkejut saja,” jawab saya.




 Faiz menuju komputer dan mulai menekan tuts
permainannya. “Nda, acaranya untuk siapa? Nah kalau acara itu untuk orang
miskin, kalau bisa aku turut menyumbang saja. Tidak perlu bayar lho!” suara
Faiz. Kali ini sangat menyejukkan.




“Acaranya belum pasti. Nanti dia
akan menghubungi Bunda lagi.




“Oke…,” kata Faiz sambil
memperhatikan komputernya lagi. “Kalau yang mengadakan orang kaya atau
perusahaan besar, ingatkan ya Bunda….aku punya teman-teman kecil yang juga
perlu perhatian mereka!”




Saya tersenyum, memeluk Faiz gemas. Tiba-tiba
di mata saya muncul wajah para artis cilik
Indonesia yang penuh talenta dan lucu-lucu
itu. Ah, apakah orangtua mereka ditelpon dengan cara yang sama pula? Dengan kalimat
pembuka: “Berapa harganya satu jam?”




Siapa yang tak senang bila anaknya
punya talenta dan bisa mendapatkan uang sendiri? Tapi diundang dengan kalimat
pembuka: Berapa harganya satu jam? Kami
mau pakai dia!?




Sesuatu menohok nurani saya. Perih.


(Helvy Tiana Rosa)








bagaimana kalau faiz saya undang ke bontang u "acara" saya mbak helvy???
Comment deleted at the request of the author.
nisania wrote on Jun 1, '05
hmmm,mbak helvy punya stok sabar yang banyak pastinya :D karena kalau saya yang menerima telpon seperti itu, saya pasti akan langsung menolak... udah sebel duluan ...:b

gak simpatik sekalih...:(
myshant wrote on Jun 1, '05
masyaAllah, gak sopan banget ya EO-nya
jangan2 gak pernah diajarin sopan santun bertelepon ya ?
heran deh, masih ada yg mengira semua hal bisa dihargai dengan uang.
Comment deleted at the request of the author.
nadnuts wrote on Jun 1, '05
nisania said
mbak helvy punya stok sabar yang banyak pastinya
iya ya...
kalo aku juga dah bete duluan...
imazahra wrote on Jun 1, '05
Berulang-ulang saya ingin mencopy hanya kalimat ini :
“Ya biasanya kalau kami kontak artis cilik kan begitu Bu. Langsung harga! Apalagi ibunya yang merangkap menejer!”
--> Entah kenapa dicopy semua sama MPnya, bolak balik saya hapus jadinya, maaf ya Bunda. Saya gemas dengan kalimat satir itu soalnya!

Aduuuuuuuuuh Bunda, itu orang asli keterlaluan, tapi dari sana juga terungkap bagaimana relasi segitiga para artis cilik, bunda mereka dan perusahaan yang membutuhkan, benar-benar bahasa KAPITALIS, keterlaluan!!!

Terima kasih sudah sharing ini, sedih saya atas 1 sisi lain eksploitasi anak-anak :-(

*Maaf Bunda, jadi panas saya, asli gak ada adabnya sama sekali!*
deeyand wrote on Jun 1, '05
Betul, Mbak, Faiz sangat-sangat berharga sehingga gak akan bisa dihargai sebesar apapun. Jadi kangen ama Faiz :-)
iniaku wrote on Jun 1, '05
*Maaf Bunda, jadi panas saya, asli gak ada adabnya sama sekali!*
ayo Ima senyum lagi biar gak panas ;)
ibuku bilang, kalau orang yg bikin hati panas dihadapi dg dingin
insha Allah orang tsb akan ikut menjadi dingin
tapi aku sampai skg masih suka ngelawan panas dg panas
ibuku memang orang paling sabar sedunia
sellyna wrote on Jun 1, '05
helvytr said
Alhamdulillah bila diberi honor yang pantas, Faiz punya banyak tempat saluran yaitu teman-teman kecilnya yang miskin, yang keliaran di jalan, di panti, di Rumah Cahaya, di sekolahnya
Saya sangat terkesan ini; Faiz yang punya 'aturan main' nya sendiri soal honor nya dia...Alhamdulillah semoga makin banyak saja aktifitas Faiz yang memberikan 'efek menetes kebawah' dan para anjal, anak terlantar jadi makin berkurang
Dan saya juga sangat 'terkesan' dengan si penelpon yang menilai segalanya dari material padahal Faiz jelas tak ada bandingannya Ya... Faiz ya..(termasuk dengan berapapun jumlah uang yg ditawar sipenelpon)
imazahra wrote on Jun 1, '05
iniaku said
ibuku bilang, kalau orang yg bikin hati panas dihadapi dg dingin
insha Allah orang tsb akan ikut menjadi dingin
Darling Sefa, aku gak benar2 panas kok, itu cuma bahasa hiperbolaku aja kok untuk menunjukkan kegeramanku atas semesta persoalan kapitalisasi dalam seluruh lini kehidupan kita, menyedihkan kan... :-(

Anyway, makasih input manisnya, luv U
iniaku wrote on Jun 1, '05
itu cuma bahasa hiperbolaku aja kok untuk menunjukkan kegeramanku atas semesta persoalan kapitalisasi dalam seluruh lini kehidupan kita, menyedihkan kan... :-(
iya bener... sampe kapan jadi budak kapitalis yah?

kembali kasih, itu nasehat ibuku tercinta, luv u too
gwsukaoranye wrote on Jun 1, '05
helvytr said
Tidak ada sedikit saja prolog?
wadoh, gak pake telephony skill yaks... duh, Bank mana tuh Bun..??
*gemez mode on*
agungks wrote on Jun 1, '05
Berapa harganya satu jam? Kami mau pakai dia!?

Bukankah itu juga kalimat yg digunakan untuk memanggil (maaf sekali) pelacur?

Tampaknya Dik Faiz telah menjadi korban keterlanjuran, bukankah sekarang sudah terlanjur ada Da'i yg pasang tarif?

Tapi paling tidak Dik Faiz bisa memperkenalkan kepada penelpon tadi bahwa sejatinya ada dunia yg sangat berbeda dengan yg dia kenal selama ini dimana ketulusan masih mendapat tempat.
ctimel wrote on Jun 1, '05
Alhamdulillah bunda diberi kesabaran saat mendengar hal tsb "Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!"
dan semoga selalu diberi kesabaran oleh-Nya...amin
forlancer wrote on Jun 1, '05
Ck..ck..ck.. Mbak Helvy sabar banget ya..
Saya harus banyak belajar bersabar, karena Alloh paling sering menguji manusia dengan Ujian Kesabaran. Insyaallah jadi ladang pahala.
herwina wrote on Jun 1, '05
Sabar ya mba,
Ini salah satu cobaan, ujian dalam karir Faiz. Kalau kita bisa menguasai diri, saya yakin hikmahnya akan besar, bagi mba sekeluarga, teman-teman, seperti saya juga, untuk lebih mempersiapkan diri lahir batin dalam berinteraksi dengan dunia, dengan habitat yang sangat berbeda-beda...
uyuni wrote on Jun 1, '05
wadoh, gak pake telephony skill yaks... duh, Bank mana tuh Bun..??
*gemez mode on*
astaghfirullah...hadoeeh.. sabarnya mba' helvykoe tayank,, saluuut... iyach tuch yang nelpon g' pernah belajar telephony skills kali yach..
dek faiz tuch g' sama dengan artis & g' bisa diukur dengan harga karena ia begitu sangat berharga... semoga Allah selalu menjagamu ya dek.. salam sayang
bambangpriantono wrote on Jun 1, '05
Faiz
Tidak dapat dibeli
Meski dengan emas
Sebesar puncak jaya
Sekalipun..
helvytr wrote on Jun 1, '05
betul mbak. meski perlu, uang bukanlah segalanya. apalagi caranya seperti itu. :)

Hu hu hu...menohoknya, Mas...ihik ihik... :(
helvytr wrote on Jun 1, '05
iniaku said
dijawab gini:
semua uang yg ada didunia inipun tak akan cukup utk membayar Faiz
krn Faiz-lah seluruh harta didunia ini...

hehehehe, tp nanti orangnya kapok kali ya mbak ;)

Wah kalau gaya nelponnya gitu lagi...boleh juga deh dicoba yang ini. sekalian kapok ya ;p
helvytr wrote on Jun 1, '05
bagaimana kalau faiz saya undang ke bontang u "acara" saya mbak helvy???

Boleh dong, Ded. Btw tgl 25-27 Juni faiz juga diundang ke Kaltim tuh. Belum tahu jadi ngider (termasuk ke Bontang) or hanya di samarinda aja...:)

helvytr wrote on Jun 1, '05
nisania said
hmmm,mbak helvy punya stok sabar yang banyak pastinya :D

Lagi belajar sabar tepatnya. Aslinya saya ini gualak dan cerewet, dek :))
helvytr wrote on Jun 1, '05
myshant said
masyaAllah, gak sopan banget ya EO-nya
jangan2 gak pernah diajarin sopan santun bertelepon ya ?
heran deh, masih ada yg mengira semua hal bisa dihargai dengan uang.

Pertama, orang yang telpon ini tidak cerdas EI-nya...alias tidak cerdas secara emosi dan kurang mengerti etika :)
Kedua: Mengira uang bisa membayar segalanya :(.
Dalam interaksi sehari-hari saya juga sedih, orang seperti ini masih banyak saja. Semoga kita terhindar dari sikap demikian ya...dan semoga dia cepat sadar. kan kasihan. Rencana sih kalau dia menghubungi lagi mau saya tegur...mungkin sambil bercanda...(padahal serius :))
helvytr wrote on Jun 1, '05
Aduuuuuuuuuh Bunda, itu orang asli keterlaluan, tapi dari sana juga terungkap bagaimana relasi segitiga para artis cilik, bunda mereka dan perusahaan yang membutuhkan, benar-benar bahasa KAPITALIS, keterlaluan!!!

Terima kasih sudah sharing ini, sedih saya atas 1 sisi lain eksploitasi anak-anak :-(

Soal eksploitasi anak...serem...kalau kami ikuti nyari uang, Faiz juga dah jadi korban, say :). Apalagi waktu dia baru menang lomba nulis surat untuk presiden (2003) yang namanya orang mengundang, bisa seminggu 3 kali! Bayarannya juga menggiurkan.

Alhamdulillah, kami selalu tanya Faiz dulu dan kami prioritaskan acara yang benar-benar baik, bermanfaat, di mana Faiz senang dan juga bisa dapat pengalaman :). Pokoknya jangan sampai dia kecapaian dan bete! :)
helvytr wrote on Jun 1, '05
deeyand said
Jadi kangen ama Faiz :-)

Weeeiiii, teman multiply-ku yang ke 200! :)))
Faiz kangen banget juga sama kamu! (hiks...sebenarnyabukan Faiz aje yang kangen, tapi bunda juga...:)
helvytr wrote on Jun 1, '05
sellyna said
Saya sangat terkesan ini; Faiz yang punya 'aturan main' nya sendiri soal honor nya dia...Alhamdulillah semoga makin banyak saja aktifitas Faiz yang memberikan 'efek menetes kebawah' dan para anjal, anak terlantar jadi makin berkurang

Doakan Faiz tetap bisa rendah hati dan berbagi ya, Sel :)
helvytr wrote on Jun 1, '05
wadoh, gak pake telephony skill yaks... duh, Bank mana tuh Bun..??
*gemez mode on*

He he he...gemez ya say?! Kayaknya bukan pihak Bank-nya deh, tapi EO-nya....:).
helvytr wrote on Jun 1, '05
agungks said
Tapi paling tidak Dik Faiz bisa memperkenalkan kepada penelpon tadi bahwa sejatinya ada dunia yg sangat berbeda dengan yg dia kenal selama ini dimana ketulusan masih mendapat tempat.

Semoga, Gung! Doakan ya..., kami dapat menjaga Faiz dengan membantu memperbaiki lingkungan, dimulai dari diri sendiri, keluarga terdekat dan sekitar :)
Comment deleted at the request of the author.
helvytr wrote on Jun 1, '05
ctimel said
Alhamdulillah bunda diberi kesabaran saat mendengar hal tsb "Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!"
dan semoga selalu diberi kesabaran oleh-Nya...amin
Pelajaran kesabaran yang kesekian dek :)
Trims doanya ya :). Semoga demikian juga denganmu :)
helvytr wrote on Jun 1, '05
Mbak Helvy sabar banget ya..

Doakan ya...seperti yang sudah "diumumkan" sebelumnya, saya sedang banyak belajar sabar, karena aslinya saya ini gualak dan cerewet :)

Kamu juga bisa, Ben! Yuk kita belajar sabar bersama :)
helvytr wrote on Jun 1, '05
nadnuts said
iya ya...
kalo aku juga dah bete duluan...

He he he...tadi aku jawabnya juga dah bete abis, Nad :)). Eh...doi nggak ngerasa jugaaa! :(
helvytr wrote on Jun 1, '05
herwina said
Sabar ya mba,
Ini salah satu cobaan, ujian dalam karir Faiz. Kalau kita bisa menguasai diri, saya yakin hikmahnya akan besar, bagi mba sekeluarga, teman-teman, seperti saya juga, untuk lebih mempersiapkan diri lahir batin dalam berinteraksi dengan dunia, dengan habitat yang sangat berbeda-beda...

Yup setuju...insya Allah sabar membawa hikmah yang lebih besar. Kita saling dukung dalam kebaikan dan kesabaran ya say...

Untungnya tadi waktu jawab telp biar bete...tetap sabar :)) (lho?)
helvytr wrote on Jun 1, '05
uyuni said
g' bisa diukur dengan harga karena ia begitu sangat berharga... semoga Allah selalu menjagamu ya dek.. salam sayang

Makasih ya, Yun! Kamu juga sekarang menjadi sahabat yang berharga di sini! Thx spiritnya ya! :)
helvytr wrote on Jun 1, '05
Faiz
Tidak dapat dibeli
Meski dengan emas
Sebesar puncak jaya
Sekalipun..

No, kata Faiz...daripada dibeli begitu...mending ke Timbuktu...he he he...
tapi serius nih No, sekarang dia nanya soal Timbuktu lebih detail. Ayah belum plg, jadi nanya sama mbak. Sekarang mbak lagi surfing nyari jawaban rinci di internet...hiks...kamu sih (pura-pura marah, padaal dapat pengetahuan baru! :))
bambangpriantono wrote on Jun 1, '05, edited on Jun 1, '05
helvytr said

No, kata Faiz...daripada dibeli begitu...mending ke Timbuktu...he he he...
tapi serius nih No, sekarang dia nanya soal Timbuktu lebih detail. Ayah belum plg, jadi nanya sama mbak. Sekarang mbak lagi surfing nyari jawaban rinci di internet...hiks...kamu sih (pura-pura marah, padaal dapat pengetahuan baru! :))
Oke Faiz, let's go to Timbuktu...:)))
kangmaman wrote on Jun 1, '05
Abdurrahman Faiz adalah kado istimewa dari surga untuk Indonesia dan Dunia!!!!
helvytr wrote on Jun 2, '05
Abdurrahman Faiz adalah kado istimewa

Semoga soleh senantiasa sampai akhir hayat dan dibangkitkan kembali. Amiiin.
tiaaja wrote on Jun 2, '05
masya Allah, memangnya anak itu dagangan kok ditanyain harganya!!!
helvytr wrote on Jun 2, '05

Iya nih...kan masih banyak yang bisa didagangin ya, Tia :). faiz aja mau dagang roti :)
fadlan wrote on Jun 2, '05
Bila uang yang sudah menjadi parameter segala di kehidupan..... mengingatkan kita untuk jauh melihat ke sanubari dan melihat kehidupan ini dari ketulusan mata hati seorang anak....yang tak ternilai harganya

hani
bhooly wrote on Jun 2, '05
Mbak Helv, aku langsung tanya Tomi itu yang ngundang sapa sih!!! Aku jadi pengen langsung ngomong ama om ku yang udah pensiun dari bank itu, tapi seperti yang Mbak Helvy bilang "mungkin bukan banknya, tapi EOnya." Moga2 aja bukan hasil kualat kalo Tomi dulu pernah ngundang tamu buat Kupas Tuntas dengan cara yang ga berkenan heheheheh
helvytr wrote on Jun 2, '05, edited on Jun 2, '05
He he he...Mas Tom memang tipe yang to the point jg ya, Ria! (ketuleran Sumatera-ku kali...dulu nggak begitu. Eh, aku mulai ketuleran Solo-nya dia :))). Lho kok jadi ngomongin daerah ya :)). Tapi EI nya Mas oke bangetlah dibandingkan si EO bank tea :). jauh gitu lho. Ntar kalau Mas sampai begitu...hap! Kite duluan ni yang jabanin negur! Ya nggak? ;p. Moga nggak ada yang pernah komplain di kuptun...hiiiii....;). Btw thx ya...tapi kasian jadi si Om kebawa-bawa ditanyain...jadi nggak enak euy, say!
helvytr wrote on Jun 2, '05
fadlan said
Bila uang yang sudah menjadi parameter segala di kehidupan..... mengingatkan kita untuk jauh melihat ke sanubari dan melihat kehidupan ini dari ketulusan mata hati seorang anak....yang tak ternilai harganya

Yup! Setuju banget Mbak Hani! :). Thx ya...;)
arul wrote on Jun 3, '05
Hmm ... tanpa basa basi ya Mbak? Duh .. teganya teganya teganya .....
helvytr wrote on Jun 3, '05
Mesti belajar tentang EI lagi (baca: ahlak :))
bhooly wrote on Jun 4, '05
Ngga Mbak Vy, aku belum nanya ke omku. Soalnya aku mikir apa emang EOnya yang kasar, bukan banknya. Lagian, aku lagi ribet ama urusan kantor jadi belon main ke rumah omku.
helvytr wrote on Jun 4, '05

Iya nggak usah mbak Ria...;) Ntar biar aku yang cari tahu. Mereka belum menghubungi lagi sih. Thx ya ;)
kunyik wrote on Jun 17, '05
iniaku said
semua uang yg ada didunia inipun tak akan cukup utk membayar Faiz
krn Faiz-lah seluruh harta didunia ini...
SETUJU!!! aku ikut miris dan sedih bacanya.....
helvytr wrote on Jun 17, '05
kunyik said
SETUJU!!! aku ikut miris dan sedih bacanya.....

Trims...salam kenal ya Nieke ;)
wawa2ama wrote on Jul 29, '06
wawa2ama wrote on Jul 29, '06
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.